Showing posts with label Ilmu Kebumian. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Kebumian. Show all posts

Saturday, 3 December 2016

Fosil Dan Skala Waktu Geologi

PENDAHULUAN

Di bumi ini terdapat banyak jenis makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Dan semua makhluk hidup tersebut pasti akan mengalami kematian baik itu binatang, manusia maupun tumbuhan. Setelah mengalami kematian sebagian dari makhluk itu meninggalkan sisa-sisa kehidupan dalam jangka waktu yang lama dan biasa dikenal dengan istiah fosil.
Berdasarkan asal katanya, fosil berasal dari  bahasa latin yaitu “fossa” yang berarti "galian", adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral.  Bicara mengenai fosil berarti berbicara mengenai paleontologi, Paleontologi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari fosil. Seluk beluk fosil dipelajari oleh seorang paleontologist.


PENGERTIAN PALEONTOLOGI

Paleontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu paleo yang berarti tua atau yang berkaitan dengan masa lalu ontos berarti kehidupan dan logos yang berarti ilmu atau pembelajaran, atau di pihak lain menyebutkan bahwa paleontology adalah juga paleobiologi ( paleon = tua, bios = hidup, logos = ilmu ). Jadi paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah kehidupan di bumi termasuk hewan dan tumbuhan zaman lampau yang telah menjadi fosil.


SEJARAH DAN TOKOH PALEONTOLOGI

Tokoh dan teori pencetus Paleontologi.
1.Shrock &Twen hofel (1952)
Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masa lampau dalam skala umur geologi.Studi Paleontologi dibatasi oleh skala waktu geologi yaitu umur termuda adalah Kala Holosen (0,01 jt. th. yang lalu).
2. Strabo (58 SM-25 M)
Melihat kenampakan seperti beras pada batu gamping yang digunakan untuk membangun piramid. Fosil tersebut kemudian dikenal sebagai Numm ulites.
3. Abbe Giraud de Saulave (1777)
Law of Faunal Succession (Hukum Urut-urutan fauna).Jenis-jenis fosil itu berada sesuai dengan umurnya. Fosil pada formasi terbawah tidak serupa dengan formasi yang di atasnya
4. Chevalier de Lamarck (1774 - 1829)
Pencetus Hipotesa Evolusi .Organisme melakukan perubahan diri untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
5. Baron Cuvier (1769 - 1832)
Penyusun sistematika Paleontologi (Taksonomi)
6. William Smith (1769 - 1834)
Law of Strata Identified by Fossils (Hukum Mengenali Lapisan Dengan Fosil Kemenerusan suatu lapisan batuan dapat dikenali dari kandungan fosilnya.
7. Charles Robert Darwin (1809 - 1882)
Perubahan makhluk hidup disebabkan oleh adanya faktor seleksi alam
8. Pada abad ke 18 dan 19, seorang ahli geologi berkebangsaan Inggris William Smith dan ahli paleontologi Georges Cuvier dan Alexandre Brongniart dari Perancis.
Menemukan batuan-batuan yang berumur sama serta mengandung fosil yang sama pula, walaupun batuan-batuan tersebut letaknya terpisah cukup jauh


PENERAPAN DAN KEGUNAAN PALEONTOLOGI

1. Menentukan Umur Relatif Batuan
Kemunculan fosil dari zaman ke zaman selalu berbeda, sehingga fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan sedimen. Fosil Indeks: fosil yang kemunculannya sangat spesifik mewakili suatu zaman, contoh: Ammonit pada Trias. Syarat-syarat fosil indeks: Memiliki penyebaran lateral yang luas, kisaran umurnya pendek dan mudah dikenali.
2. Melakukan Korelasi
Korelasi : menghubungkan dua atau lebih satuan batuan berdasarkan kesamaan umur. Biostratigrafi adalah menyusun suatu satuan batuan berdasarkan kesamaan kandungan fosilnya. Dalam perkembangannya satuan biostratigrafi sering identik dengan umur dari batuan itu sendiri.
3. Menentukan Lingkungan Pengendapan
Organisme dalam hidupnya dibatasi oleh suatu lingkungan, dimana organisme tersebut dapat beradaptasi. Dengan demikian fosil dapat dipergunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan. Syarat: fosil terendapkan pada lingkungan dimana dia hidup (bioconoese), lingkungan hidupnya sempit dan mudah dikenali. Lingkungan Pengendapan : Darat, meliputi gurun, sungai, danau, dan sebagainya. Sedangkan laut, meliputi: pantai, rawa, laut dangkal (neritik) dsb.
4. Mengetahui Paleoklimatologi
Selain lingkungan hidup, organisme juga dipengaruhi oleh iklim sebagai salah satu unsur lingkungan. Contoh: Koral biasanya hidup pada iklim tropis - sub tropis.


RUANG LINGKUP PALEONTOLOGI

Secara umum paleontologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu Paleobotani (tumbuhan) dan Paleozoologi (hewan).
1. Paleobotani (tumbuhan)
Paleobotani adalah ilmu paleontologi yang mempelajari fosil-fosil yang banyak berhubungan dengan tumbuhan. Kajian Paleobotani meliputi aspek-aspek fosil tumbuhan, rekonstruksi taksa, dan sejarah evolusi tumbuhan itu sendiri.
Adapun tujuan dalam mempelajari Paleobotani adalah:
a. Untuk rekonstruksi sejarah dunia tumbuhan. Hal ini dapat dilakukan karena fosil tumbuhan dari suatu kolom geologis tertentu berbeda dengan yang terdapat pada kolom geologis lainnya. Dengan demikian dapat diketahui jenis tumbuhan yang ada dari waktu ke waktu, atau dengan kata lain dapat diketahui sejarahnya, khususnya mengenai kapan kelompok tumbuhan tersebut mulai muncul di muka bumi, kapan perkembangan maksimalnya, dan kapan kelompok tumbuhan tersebut punah.
b. Untuk keperluan analisa pola dan suksesi vegetasi dari waktu ke waktu.
c. Untuk analisa endapan dari masa karbon ( khususnya yang mengandung sisa tumbuhan ), yang berpotensi dalam presiksi sifat- sifat batubara. Dengan demikian dapat diketahui macam batubara serta dari tumbuhan apa batubara tersebut berasal.
d. Untuk dapat melakukan dedukasi mengenai aspek-aspek perubahan iklim. Dengan cara ini maka dimungkinkan untuk merekonstruksi lingkungan masa lampau beserta perubahan-perubahan yang terjadi, dan juga untuk mempelajari hubungan antara tumbuhan dengan hewan yang menghuni lingkungan tersebut. Salah satu perubahan iklim yang seringkali dapat diungkap dengan pendekatan ini adalah perubahan ternperatur rata-rata.
2. Paleozoology (hewan vertebrata dan invertebrata)
Paleozoologi merupakan ilmu paleontologi yang ditujukan untuk mempelajari fosil-fosil yang berhubungan dengan hewan. Kajian ilmu ini mulai dari hewan vertebrata hingga invertebrata.
Tujuan dari mempelajari ilmu paleozoology ini, antara lain :
a. Rekonstruksi sejarah kehidupan pada masa lampau baik di bidang hewan dan perkembangan manusia. Proses rekonstruksi kehidupan dilakukan melalui rekonstruksi fosil karena fosil ditemukan dalam lapisan/strata geologis yang berlainan sehingga dapat diketahui perkiraan waktu munculnya dan kehidupan makhluk yang telah memfosil tersebut.
b. Analisa pola dan suksesi suatu vegetasi dari waktu ke waktu. Kehidupan pada masa purba di mana kondisi bumi masih belum stabil sangat memungkinkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim sehingga mempengaruhi kehidupan spesies dan vegetasi tanaman
c. Analisa mengenai aspek – aspek perubahan iklim yang terjadi. Cara ini bermanfaat untuk merekonstruksi dampak perubahan iklim pada lingkungan, mempelajari bagaimana hubungan antara hewan dan tumbuhan yang hidup pada lingkungan tersebut
d. Analisa kehidupan biokultural manusia sejak manusia muncul di bumi, proses evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya seluas dan selama mungkin
e. Analisa proses adaptif yang dilakukan makhluk hidup terhadap perubahan kondisi lingkungan, makhluk yang mampu beradapatasi akan terus bertahan walaupun peiode waktu geologis terus berjalan sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah. Proses adaptasi membuka zona adaptif yang baru yaitu suatu kumpulan kondisi hidup dan sumber daya baru yang memberikan banyak kesempatan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Tidak hanya hewan dan tumbuhan, sekarang ini ilmu paleontologi telah berkembang sebagai ilmu yang juga meneliti tentang protista di masa lalu. "Protista" ini mengacu pada eukariota yang bukan tanaman, hewan, atau jamur. Kebanyakan protista uniseluler, sementara yang lain multiseluler atau bahkan multinukleat (inti banyak dalam satu sel). Protista ini dapat memiliki berbagai kelompok ukuran, bentuk, siklus hidup, habitat, serta makanan dan teknik reproduksi.

Bakteri juga dapat dipelajari dengan ilmu paleontologi. Bakteri merupakan organisme uniseluler yang memiliki dinding sel, organel, dan DNA, seperti halnya eukariota. Namun, tidak seperti eukariota, DNA organel mereka dan tidak terkandung dalam selaput terpisah di dalam sel. Cyanobacteria, atau "bakteri biru-hijau," telah ditemukan di batuan dari Archean, 3,5 miliar tahun lalu. Cyanobacteria (bersama dengan bakteri lainnya) juga membentuk tikar dan gundukan dikenal sebagai stromatolites, yang ada di bumi dari lapisan prakambrium sampai hari ini. Fosil terkecil yang pernah ditemukan milik magnetobacteria, yang membentuk nanometer ukuran kristal-dari mineral magnetit di dalam sel mereka.

Jenis-jenis jamur yang kita makan atau yang ada juga mulai dipelajari dalam ilmu ini. Jamur ini kebanyakan tidak membuat makanan mereka sendiri, seperti yang tanaman lain lakukan. Beberapa cara seperti parasitisme dan beberapa bentuk simbiosis yang lain untuk dapat berhubungan dengan ganggang atau tanaman disekitarnya untuk mendapatkan nutrisi. Mereka dapat ditemukan di tanah atau pada organisme lain sebagi parasit, dapat juga dalam lingkungan perairan. Selain itu mereka juga merupakan dekomposer pokok organik material di Bumi. Untuk ukuran beberapa jamur dapat tumbuh sangat besar (misalnya, jamur dan puffballs), yang lain bersel tunggal (ragi), tetapi kebanyakan multiselular. Meskipun jamur sering dianggap terlalu rapuh untuk fosil atau terlalu sulit untuk diidentifikasi sebagai fosil, catatan fosil mereka akan membawa kita kembali ke masa Prakambrium, dan mereka sering ditemukan di Devon Bawah Rhynie Rijang Skotlandia.
Pada dasarnya ruang lingkup paleontology berkisar tentang segala sesuatu yang telah hidup di masa lalu atau bisa dikatakan organisme purba (baik hewan, tumbuhan, protista, jamur maupun bakteri) yang hingga kini sudah punah dan hanya tertinggal fosil-fosil, jejak peradaban, lingkungannya dan peninggalan-peninggalan lainnya. Sehingga kita hanya meneliti dari jejak-jejak yang tertinggal.


KAITAN PALEONTOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA

1. Biostratigrafi
Biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karena sedimen yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal lingkungan sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas lempung dan napal sementara yang lainnya lebih bersifat batu gamping kapuran, tetapi apabila kandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan telah diendapkan pada waktu yang sama.
Amonit, graptolit dan trilobit merupakan fosil indeks yang banyak digunakan dalam biostratigrafi. Mikrofosil seperti acritarchs, chitinozoa, conodonts, kista dinoflagelata, serbuk sari, sapura dan foraminifera juga sering digunakan. Fosil berbeda dapat berfungsi dengan baik pada sedimen yang berumur berbeda; misalnya trilobit, terutama berguna untuk sedimen yang berumur Kambrium. Untuk dapat berfungsi dengan baik, fosil yang digunakan harus tersebar luas secara geografis, sehingga dapat berada pada bebagai tempat berbeda. Mereka juga harus berumur pendek sebagai spesies, sehingga periode waktu dimana mereka dapat tergabung dalam sedimen relatif sempit, Semakin lama waktu hidup spesies, semakin tidak akurat korelasinya, sehingga fosil yang berevolusi dengan cepat, seperti amonit, lebih dipilih daripada bentuk yang berevolusi jauh lebih lambat, seperti nautoloid.


2. Kronostratigrafi
Kronostratigrafi merupakan cabang dari stratigrafi yang mempelajari umur strata batuan dalam hubungannya dengan waktu.
Tujuan utama dari kronostratigrafi adalah untuk menyusun urutan pengendapan dan waktu pengendapan dari seluruh batuan didalam suatu wilayah geologi, dan pada akhirnya, seluruh rekaman geologi Bumi.
Tata nama stratigrafi standar adalah sebuah sistem kronostratigrafi yang berdasarkan interval waktu paleontologi yang didefinisikan oleh kumpulan fosil yang dikenali (biostratigrafi). Tujuan kronostratigrafi adalah untuk memberikan suatu penentuan umur yang berarti untuk interval kumpulan fosil ini.
4. Paleobotani
Paleobotani atau palaeobotani (dari bahasa Yunani paleon berarti tua dan botany yang berarti ilmu tentang tumbuhan), adalah cabang dari paleontologi yang khusus mempelajari tentang tumbuhan pada masa lampau.
5. Paleozoologi
Paleozoologi atau palaeozoology (bahasa Yunani: ฯ€ฮฑฮปฮฑฮนฮฟฮฝ, paleon = tua dan ฮถฯ‰ฮฟฮฝ, zoon = hewan) adalah adalah cabang dari paleontologi atau paleobiologi, yang bertujuan untuk menemukan dan mengindentifikasi fosil hewan bersel banyak dari sistem geologi atau arkeologi, untuk menggunakan fosil tersebut dalam rekonstruksi lingkungan dan ekologi prasejarah.
6. Palinologi
Palinologi merupakan ilmu yang mempelajari polinomorf yang ada saat ini dan fosilnya, diantaranya serbuk sari, sepura, dinoflagelata, kista, acritarchs, chitinozoa, dan scolecodont, bersama dengan partikel material organik dan kerogen yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen.
Istilah palinologi diperkenalkan oleh Hyde dan Williams pada tahun 1944, berdasarkan surat-menyurat dengan ahli geologi Swedia yang bernama Antevs, dalam Pollen Analysis Circular (salah satu jurnal yang mengkhususkan pada analisa pollen, yang diproduksi oleh Paul Sears di Amerika Utara). Hyde dan Williams memilih palinologi berdasarkan kata dalam Bahasa Yunani paluno yang berarti 'memercikan' dan pale yang berarti 'debu' (sehingga mirip dengan kata dalam Bahasa Latin pollen).
7. Zoologi
Zoologi dengan berbagai cabang keilmuannya seperti mammalogi dan primatologi membantu dalam menganalisis fosil hewan yang ditemukan,sangat berkaitan dengan paleozoologi.
8. Morfologi
Morfologi dibutuhkan sejak proses preparasi / perbaikan fosil yang ditemukan dan rekonstruksi fosil sampai ke tingkat individu.
9. Fisiologi dan Biokimia
Fisiologi dan Biokimia, ilmu ini penting untuk analisa nutrisi yang dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup zaman purba ( paleonutrisi ), proses dan siklus reproduksi,jarak imunologis serta identifikasi biokimiawi.
10. Arkeologi
Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari kebudayaan ( manusia ) pada masa lampau melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditemukan. Peninggalan arkeologis ini sering disebut artefak yaitu alat yang dipakai manusia untuk mengeksploitasi lingkungan. Ilmu ini sangat berkaitan dengan paleontologi karena bermanfaat untuk mempelajari kebudayaan dan mengenali alat yang dipakai oleh manusia purba.
11. Geologi
Geologi, ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang lapisan pembentuk bumi, proses pembentukannya yang menjadi acuan penentuan umur relatif suatu fosil atau artefak peninggalan manusia purba. Penentuan umur relatif berdasar skala waktu geologis dengan urutan sejarah yang konsisten dan terdiri dari empat zaman yaitu Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Senozoikum.
12. Radiologi
Radiologi, ilmu ini berguna dalam metode penentuan umur radiometrik yang dipakai untuk menentukan umur batuan dan fosil dalam skala waktu absolut / sebenarnya. Metode ini berdasarkan kandungan isotop suatu unsur dalam fosil yang terkumpul saat organisme masih hidup.


PENGELOMPOKAN PALEONTOLOGI

Paleontology adalah cabang  ilmu  geologi yang  mempelajari kehidupan masa lampau yang didasarkan atas fosil tanaman atau hewan yang terbagi atas:
1.  Makropalenteologi yaitu mempelajari fosil-fosil dengan ukuran relatif besar sehingga mempelajarinya tidak menggunakan alat bantu seperti loupe dan mikroskop.
2.  Mikropalenteologi yaitu mempelajari fosil-fosil yang berukuran relatif kecil sehingga dalam pengamatan menggunakan alat bantu seperti mikroskop binokuler , mikroskop elektron.


PENGERTIAN FOSIL

Fosil, dari bahasa Latin fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah”. Fosil adalah semua sisa, jejak, ataupun cetakan dari manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang telah terawetkan dalam suatu endapan batuan dari masa geologis atau prasejarah yang telah berlalu.
Fosil mahluk hidup terbentuk ketika mahluk hidup pada zaman dahulu (lebih dari 11.000 tahun) terjebak dalam lumpur atau pasir dan kemudian jasadnya tertutup oleh endapan lumpur. Endapan lumpur tersebut akan mengeras menjadi batu di sekeliling mahluk hidup yang terkubur tersebut. Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah yang sangat lembut ukurannya seperti serbuk sari, misalnnya foraminifera, ostracoda dan radiolarian. Sedangkan, hewan yang besar biasanya hancur bercerai-cerai dan bagian tertentu yang ditemukan sebagai fosil. Fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup di waktu silam, yang diawetkan oleh alam. Karena terawetkan sejak 3,5 miliar tahun yang lalu fosil menjadi petunjuk penting mengenai sejarah bumi.


KEGUNAAN FOSIL

a. Untuk mengidentifikasi unit-unit stratigrafi permukaan bumi, atau untuk mengidentifikasi umur relatif clan posisi relatif batuan yang mengandung fosil. Identifikasi ini dapat dilakukan dengan mempelajari fosil indeks. Persyaratan bagi sutau fosil untuk dapat dikategorikan sebagai fosil indeks adalah : (a). terdapat dalam jumlah yang melimpah dan mudah diidentifikasi; dan (b). memiliki distribusi horizontal yang luas, tetapi dengan distribusi vertikal yang relatif pendek (kurang lebih 1 juta tahun).
b. Menjadi dasar dalam mempelajari paleoekologi dan paleoklimatologi. Struktur dan distribusi fosil diasumsikan dapat mencerminkan kondisi lingkungan tempat tumbuhan tersebut tumbuh dan bereproduksi.
c. Untuk mempelajari paleofloristik, atau kumpulan fosil tumbuhan dalam dimensi ruang dan waktu tertentu. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai distribusi populasi tumbuhan dan migrasinya, sebagai respon terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan masa lampau.
d. Menjadi dasar dalam mempelajari evolusi tumbuhan, yaitu dengan cara mempelajari perubahan suksesional tumbuhan dalam kurun waktu geologi.
e. Untuk korelasi. Kemampuan kita untuk mengetahui sedimentasi batuan sangat terbatas. Dengan membandingkan fosil yang terdapat di suatu tempat dengan tempat lain, kita dapat mengadakan korelasi. Fosil yang terdapat di suatu tempat karena kesamaan-kesamaan, terpaksa dan harus dipersamakan dengan fosil yang terdapat di tempat lain.
f. Menentukan lingkungan pengendapan. Fosil hanya dijumpai pada batuan sedimen, baik sedimen kontinen maupun marin. Suatu kehidupan akan diendapkan pada batuan tertentu bila batuan tersebut mengalami pelapukan dan tererosi, maka fosil yang berasal dari kontinen mungkin tertransport dan menjadi endapan marin, jadi dengan melihat fosil yang dikandung suatu sedimen, kita dapat mengetahui lingkungan pengendapan batuan tersebut.
g. Mengetahui evolusi (perkembangan) kehidupan. Kehidupan yang berjalan dari masa ke masa akan mengalami perkembangan dan perubahan yang meliputi perubahan ke arah generasi dan perubahan ke arah penyempurnaan. Suatu kehidupan pada mulanya kurang sempurna akan berubah ke arah yang lebih sempurna. Perubahan ini akan sangat dipengaruhi oleh keadaan tempat dan lingkungan hidup. Terdapatnya fosil-fosil menunjukkan adanya pemusnahan kehidupan, sedangkan kehidupan yang pertama tidak diketahui dari fosil-fosilnya dan dari mana asalnya. Kemudian muncul lagi kehidupan baru yang diketahui dari fosil-fosilnya yang muda umur geologinya, serta lebih sempurna dari kehidupn sebelumnya.

a. Fosil Sebagai Indikator Lingkungan Pengendapan.
Dalam menentukan lingkungan pengendapan, fosil sangat berperan penting yang mana
fosil dapat menunjukan lingkungan atau keadaan tempat pengendapan fosil tersebut ditemukan. Fosil tidak mungkin terbentuk di sembarang tempat. Fosil dapat menunjukkan lingkungan pengendapan baik asam maupun basa.
b. Fosil Sebagai Indikator Paleogeografi.
Fosil berguna dalam mempelajari bentuk fisik suatu daerah di masa lampau. Fosil dapat merekonstruksi suatu daerah ke zaman umur fosil ditemukan. Dengan ditemukannya fosil tersebut, geolog dapat mengetahui bentuk daerah tersebut di masa lampau.
c. Fosil Sebagai Indikator Umur Geologi.
Penentuan umur geologi dapat dilakukan dengan meneliti fosil. Lapisan yang mana fosil
ditemukan dapat menjadi indikator umur fosil. Dengan mengetahui umur fosil, geolog dapat memperkirakan umur suatu batuan maupun lapisan.
d. Fosil Sebagai Indikator Proses Sejarah Geologi.
Fosil dapat menunjukkan proses geologi suatu wilayah. Ditemukannya fosil dapat mengidentifikasi aktivitas tektonik lempeng daerah tesebut maupun proses  geologi lainnya yang mengubah bentuk fisik daerah tersebut. Penemuan fosil akan mengidentifikasi jika fosil tersebut telah tertransport ataupun telah berpindah ke lapisan lainnya, sehingga geolog dapat mengetahui proses geologi yang telah terjadi.
e.Fosil Sebagai Indikator Evolusi dan Migrasi.
Fosil yang ditemukan di suatu daerah tidak selalu fosil organisme native (asli) yang
menduduki daerah tersebut. Terkadang ditemukan fosil organisme yang bukan merupakan organisme yang berhabitat di daerah itu. Ini menunjukkan bahwa adanya migrasi suatu organisme. Disamping itu fosil juga dapat menunjukkan ada atau tidaknya evolusi yang terjadi di daerah ditemukannya fosil tersebut.
f. Fosil Sebagai Indikator Tektonik.
Fosil akan ditemukan di lapisan-lapisan tertentu. Fosil dapat dijadikan indikator pergerakan lempeng tektonik. Ditemukannya fosil di lapisan yang tidak semestinya dapat menjadi indikasi adanya pergerakan lempeng tektonik yang membuat lapisan fosil berubah (terangkat maupun turun) ataupun mentransport fosil ke lapisan yang tidak semetinya (jika disesuaikan dengan umur fosil).
g. Fosil Sebagai Indikator Iklim.
Fosil dapat dijadikan sebagai penentu iklim di masa lampau. Fosil yang ditemukan di
lapisan tertentu akan menunjukkan iklim yang pernah terjadi di masa lampau.
h. Fosil Sebagai Sumber Energi dan Berharga.
Fosil merupakan bahan yang akan menjadi minyak bumi. Sumber energi yang kita dapat
dari bahan bakar fosil sangatlah penting untuk menunjang kehidupan manusia. Fosil
merupakan kotak hitam yang dapat membawa kita ke masa lalu, hal ini yang menjadikan fosil sangatlah berharga.


SKALA WAKTU GEOLOGI

Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa Pra-Kambrium.Apa saja yg dipercaya oleh ahli geologi, apa yg terjadi dengan mahluk hidup pada masa-masa itu.

•         Arkeozpoikum artinya Masa Kehidupan Purba.
Masa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Batuan masa ini ditemukan di beberapa bagian dunia yang lazim disebut kraton/perisai benua.
Coba perhatikan, masa ini adalah masa pembentukan kerakbumi. Jadi kerakbumi terbentuk setelah pendinginan bagian tepi dari “balon bumi” (bakal calon bumi). Plate tectonic / Lempeng tektonik yang menyebabkan gempa itu terbentuk pada masa ini. Lingkungan hidup mas itu tentunya mirip dengan lingkungan disekitar mata-air panas.
Batuan tertua tercatat berumur kira-kira 3.800.000.000 tahun. Masa ini juga merupakan awal terbentuknya Indrosfer dan Atmosfer serta awal muncul kehidupan primitif di dalam samudera berupa mikro-organisma (bakteri dan ganggang). Fosil tertua yang telah ditemukan adalah fosil Stromatolit dan Cyanobacteria dengan umur kira-kira 3.500.000.000 tahun.

•         Masa Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu)
Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes).
Kalau istilah-istilah ini dipelajari di ilmu biologi, mestinya di SMP sudah diajari kan ? Enkaryotes ini bakal menjadi tumbuhan dan prokaryotes nantinya bakal menjadi binatang.
Menjelang akhir masa ini organisme lebih kompleks, jenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal, yang bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.
Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa Pra-Kambrium.

•         Jaman Kambrium (590-500 juta tahun lalu)
            Kambrium berasal dari kata “Cambria” nama latin untuk daerah Wales di Inggeris sana, dimana batuan berumur kambrium pertama kali dipelajari.
Banyak hewan invertebrata mulai muncul pada zaman Kambrium. Hampir seluruh kehidupan berada di lautan. Hewan zaman ini mempunyai kerangka luar dan cangkang sebagai pelindung.
Fosil yang umum dijumpai dan penyebarannya luas adalah, Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda (Trilobit).
Sebuah daratan yang disebut Gondwana (sebelumnya pannotia) merupakan cikal bakal Antartika, Afrika, India, Australia, sebagian Asia dan Amerika Selatan. Sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Tanah Hijau masih berupa benua-benua kecil yang terpisah.

•         Jaman Ordovisium (500 – 440 juta tahun lalu)
Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lili Laut) dan Bryozona.
Koral dan Alaga berkembang membentuk karang, dimana trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar.
Meluapnya Samudra dari Zaman Es merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai menutup celah samudera yang berada di antaranya.

•         Jaman Silur (440 – 410 juta tahun lalu)
Zaman silur merupakan waktu peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku). Sedangkan Kalajengking raksasa (Eurypterid) hidup berburu di dalam laut. Ikan berahang mulai muncul pada zaman ini dan banyak ikan mempunyai perisai tulang sebagai pelindung.
Selama zaman Silur, deretan pegunungan mulai terbentuk melintasi Skandinavia, Skotlandia dan Pantai Amerika Utara.

•         Jaman Devon (410-360 juta tahun lalu)
Zaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi berkembang dan beranjak menuju daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan muncul serangga untuk pertama kalinya. Samudera menyempit sementara, benua Gondwana menutupi Eropa, Amerika Utara dan Tanah Hijau (Green Land).

•         Jaman Karbon (360 – 290 juta tahun lalu)
Reptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air. Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat dalam jumlahnya. Pohon pertama muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor kuda tumbuh di rawa-rawa pembentuk batubara.Pada zaman ini benua-benua di muka bumi menyatu membentuk satu masa daratan yang disebut Pangea, mengalami perubahan lingkungan untuk berbagai bentuk kehidupan. Di belahan bumi utara, iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran, rawa-rawa yang berisi dan sekarang tersimpan sebagai batubara.

•         Jaman Perm (290 -250 juta tahun lalu)
“Perm” adalah nama sebuah propinsi tua di dekat pegunungan Ural, Rusia.Reptilia meningkat dan serangga modern muncul, begitu juga tumbuhan konifer dan Grikgo primitif. Hewan Ampibi menjadi kurang begitu berperan. Zaman perm diakhiri dengan kepunahan micsa dalam skala besar, Tribolit, banyak koral dan ikan menjadi punah.
Benua Pangea bergabung bersama dan bergerak sebagai satu massa daratan, Lapisan es menutup Amerika Selatan, Antartika, Australia dan Afrika, membendung air dan menurunkan muka air laut. Iklim yang kering dengan kondisi gurun pasir mulai terbentuk di bagian utara bumi.

•         Jaman Trias (250-210 juta tahun lalu)
Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan sikada mirip palem berkembang dan Konifer menyebar.
Benua Pangea bergerak ke utara dan gurun terbentuk. Lembaran es di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.

•         Jaman Jura (210-140 juta tahun lalu)
Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan dan Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya berkembang.
Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola melimpah pada waktu ini.Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia.Jaman ini merupakan jaman yang paling menarik anak-anak setelah difilmkannya Jurrasic Park.

•         Jaman Kapur (140-65 juta tahun lalu)
Banyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini.Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus, Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan. Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia. Jaman ini adalah jaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa.

•         Zaman Tersier (65 – 1,7 juta tahun lalu)
Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti munculnya primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai burung unta, sedangkan fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman Tersier terus berevolusi menghasilkan banyak variasi tumbuhan, seperti semak belukar, tumbuhan merambat dan rumput.
Pada zaman Tersier – Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan dan tumbuhan saling berganti seiring dengan perubahan cuaca secara global.

•         Zaman Kuarter (1,7 juta tahun lalu – sekarang)
Zaman Kuarter terdiri dari kala Plistosen dan Kala Holosen.
Kala Plistosen mulai sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang.
Pada Kala Plistosen paling sedikit terjadi 5 kali jaman es (jaman glasial). Pada jaman glasial sebagian besar Eropa, Amerika utara dan Asia bagian utara ditutupi es, begitu pula Pegunungan Alpen, Pegunungan Cherpatia dan Pegunungan Himalaya
Di antara 4 jaman es ini terdapat jaman Intra Glasial, dimana iklim bumi lebih hangat. Manusia purba jawa (Homo erectus yang dulu disebut Pithecanthropus erectus) muncul pada Kala Plistosen. Manusia Modern yang mempunyai peradaban baru muncul pada Kala Holosen. Flora dan fauna yang hidup pada Kala Plistosen sangat mirip dengan flora dan fauna yang hidup sekarang.
Perhatikan bumi terbentuk 4 milyar tahun lalu. Tetapi kehidupan baru muncul semilyar tahun lalu. Bahkan "manusia purba" adanya baru 2 juta tahun lalu .

Friday, 2 December 2016

Contoh Laporan Peta Geologi

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dengan adanya teknologi dan perkembangan zaman dari dulu sampai sekarang, banyak orang melakukan penelitian tentang bagaimana bentuk atau sebaran batuan di permukaan bumi ini. Permukaan bumi ini memeiliki berbagai jenis rupa dan bentuk yang sangat beragam dan didalamnya mengandung banyak sekali berbagai jenis batuan yang terbentuk.
Untuk dapat mengatahui berbagai jenis bentuk dan sebaran batuan di permukaan bumi ini, dibuatlah sebuah jenis peta yang memperlihatkan bentuk tersebut secara dua dimensi yang digambar dalam sebuah bidang datar. Dalam gambar tersebut di gambarkan sebran-sebaran batuan yang berada dalam suatu lokasi atau daerah. Yang disimbolkan atau di lambangkan dengan gambar berwana yang nantinya akan membedakan antara satu sama lainnya.
Dalam sebuah peta geologi akan didapatkan hasil gambar rupa bumi yang nantinya akan dipakai sebagai acuan untuk mengetahui jenis batuan apa yang berada pada lokasi atau daerah tersebut sehingga dalam pencarian suatu bahan galian atau mineral-mineral tersebut akan lebih mudah ditemukan.
1.2 Maksud Dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum kali ini yaitu untuk memahami berbagai jenis sebaran batuan yang tersebar di muka bumi ini. Dan mengetahui bentuk serta jenis dari batuan tersebut
1.2.2 Tujuan
Agar praktikan mampu menggambarkan dan membuat sebuah peta geologi dari suatu daerah atau lokasi tertentu.
Agar praktikan mampu memahami cara mem plot peta dan menghitung berapa jarak datar yang diperlukan untuk menentukan dimana letak sebaran batuan yang nantinya akan membentuk berupa garis yang menyatu dan diketahui jenis batuan apa yang tersebar didaerah tersebut.


BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Peta Geologi
Peta geologi merupakan salah satu peta yang dibuat untuk menggambarkan tubuh batuan, penyebaran batuan, kedudukan, unsure, dan struktur geologi dan hubungan antar satuan batuan serta merangkum berbagai data lainnya.
Jadi pengertian peta geologi itu sendiri yaitu bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah atau wilayah dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang digunakan dan menggambarkan informasi sebaran batuan, jenis batuan, statigrafi, struktur, tektonikan, fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energi yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna dan simbol juga dengan corak atau gabungan ketiganya.

Gambar 2.1
Peta geologi


Salah satu contoh gambar penyebaran batuan dalam peta geologi yang digambarkan dengan simbol dan bentuk yang berbeda adalah seperti gambar dibawah.

Gambar 2.2
Simbol batuan


2.2 Jenis - Jenis Peta Geologi
Pada umumnya ada beberapa macam bagian peta geologi yang sering digunakan baik dalam study kelapangan atau dalam misi untuk mengetahui kandungan  mineral di dalamnya. Jenis-jenis peta geologi tersebut diantaranya :
2.2.1 Peta geologi permukaan (surface geological map)
Peta ini didefinisikan sebagai peta yang memberikan berbagai informasigeologi yang langsung terletak dibawah permukaan. Peta ini berfungsi untuk menentukan lokasi bahan bangunan, drainase, pencarian air maupun pembuatan jalan.
2.2.2 Peta singkapan (outcrop map)
Peta yang umumnya berskala besar, mencantumkan lokasi ditemukannya batuan padat, yang dapat memberikan sejumlah keterangan dari pemboran beserta sifat batuan dan kondisi strukturalnya. Peta ini digunakan untuk menentukan lokasi, misalnya material yang berupa pecahan batu, dapat ditemukan langsung di bawah permukaan.
2.2.3 Peta geologi tematik
Peta geologi tematik adalah peta yang menyajikan informasi geologi dan atau potensi sumber daya mineral maupun energi untuk tujuan tertentu.
2.2.4 Peta fotogeologi
Peta fotogeologi adalah peta yang dibuat berdasarkan interpretasi foto udara. Peta fotogeologi harus selalu disesuaikan dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan.

2.2.5 Peta ikhtisar geologis
Peta ikhtisar geologis adalah peta yang memberikan informasi langsung berupa formasi-formasi yang telah tersingkap, mapun ekstrapolasi terhadap beberapa lokasi yang formasinya masih tertutup oleh lapisan Holosen. Peta ini kadang agak skematis, umumnya berskala sedang atau kecil, dengan skala 1 : 100.000 atau lebih kecil.
2.2.6 Peta hidrogeologi
Peta hidrogeologi adalah peta yang menunjukkan kondisi airtanah pada daerah yang dipetakan. Pada peta ini umumnya ditunjukkan formasi yang permeabel dan impermeabel.
2.2.7 Peta topografi
Peta topografi adalah peta ketinggian titik atau kawasan yang dinyatakan dalam bentuk angka ketinggian atau kontur ketinggian yang diukur terhadap permukaan laut rata-rata.
2.3 Bagian – Bagian Peta Geologi
Dalam sebuah peta akan memiliki bagian-nagian yang sama untuk lebih mudah dalm menafsirkan dan memahami sebuah peta. Khususnya peta Geologi akan memiliki sebuah bagian-bagian yang nantinya akan menjadi tuntunan atau panduan untuk kita bisa membaca sebuah kondisi lapangan dari gambar yang terdapat dalam sebuah peta. Bagian-bagian dari peta topogarafi diantaranya :
2.3.1 Judul Peta
Adalah sebuah identitas dari sebuah peta. Biasanya ditulis suatu nama daerah tempat yang digambarkan.
2.3.2 Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi yang dicantumkan dibagian kiri bawah dari sebuah peta yang berisi tentang informasi pembuatan dan instansi pembuat.
2.3.3 Nomor Peta
Adalah angka yang dicantumkan dibagian kanan atas peta yang menunjukan nomor peta tersebut.
2.3.4 Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan dari nomor-nomor peta yang lain yyang tergambar disekitar peta yang bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memrlukan interprestasi suatu daerah yang lebih luas.
2.3.5 Sistem Koordinat
Sistem koordinat ini sangatlah penting dalam sebuah pembuatan peta, karena dengan adanya sistem koordinat maka kita akan dapat menggambarkan sebuah peta topografi dengan mudah dalam skala yang lebih kecil.
Sumbu koordinat ini adalah berupa dua garis sumbu yang biasa dilambangkan dengan X dan Y. beberapa macam koordinat diantaranya, yaitu :
Koordinat geografis
Koordinat grid
Koordinat lokal
2.3.6 Skala Peta
Pengertian dari skala yaitu suatu perbandingan dari jarak gambar pada peta terhadap jarak datar sesungguhnya di lapangan. Contohnya skala 1 :
15.000, ini berarti 1 cm dip eta sama dengan 15 m jarak sebenarnya di lapangan.
2.3.7 Garis Kontur atau Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi, garis kontur ini memiliki sifat-sifat tertentu diantaranya, yaitu :
Garis kontur merupakan kurva tertutup yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang.
Garis kontur yang didalam selalu lebih tinggi dari pada pada garis kontur yang di luar.
Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama.
Indeks kontur dinyatakan dengan garis tebal.
Semakin rapat jarak antara garis kontur berarti semakin terjal medan sebenarnya dan jika garis kontur bergerigi maka kemiringannya hampir sama dengan 900.
Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lainnya.
2.3.8 Legenda Peta
Legenda dalam sebuah peta merupakan salah satu bagian dari gambar peta yang berfungsi sebagai tambahan agar dapat memudahkan interpretasi peta, berupa simbol-simbol maupun keterangan lainnya. Dalam peta geologi simbol yang digunakan biasanya berupa gambar sebaran batuan yang berwarna-warni yang membedakan jenis batuan yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 2.3
Legenda Peta Geologi



BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Tugas
3.1.1 Membuat sebuah peta geologi dari daerah yang ditentukan berdasarkan koordinat dari peta besar Jawa Barat yang di plot pada peta daerah dalam bentuk ukuran kertas A3.
3.2 Pembahasan
3.2.1 Pembuatan Peta Geologi
Dalam pembuatan peta geologi ini dilakukan dengan cara memplot peta dari peta besar Jawa Barat yang dilakukan dengan perhitungan dan dihasilkan titik-titik koordinat yang membentuk sebuah persegi dan persegi tersebut merupakan daerah yang kita jadikan objek dalam mengetahui jenis batuan dan sebarannya yang nantinya dilakukan plot kembali dalam peta berukuran A3 dan dilakukan penarikan garis berdasarkan garis-garis sebaran batuan dalam peta besar.
Langkah-langkah perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Pertama kali dilakukan plot peta dari lokasi yang ditentukan terhadap peta besar Jawa barat dengan cara menentukan koordinat X dan Y. dalam ketentuan ditetapkan bahwa setiap bertambah 30’ (30 menit) jarak datarnya adalah 11 cm dan untuk  setiap pertambahan 30” (30 detik) jarak datar dalam peta besar adalah 3,1 cm.
Langkah selanjutnya yaitu memasukan data koordinat dalam peta kecil kedalam peta besar berdasarkan ketentuan diatas. Contohnya, didapat titik koordinat dalam peta kecil yaitu :
X = 06ยบ10’30”
Y = 107ยบ36’00”

Data tersebut yang diambil untuk perhitungan adalah derajat menit dan detiknya. Salah satu contoh perhitungan.
  "Koordinat Y ="  "30" /"11"  "="  "10'30\""/"Y"  "  ="  "30" /"11"  "="  "10,5" /"Y"
"        Y ="  "11 x 10,5" /"30"  " "
"    Y = 3,85 cm"
"Koordinat X ="  "30" /"11"  "="  "36'00\""/"X"  "  ="  "30" /"11"  "="  "36" /"X"
"      X ="  "11 x 36" /"30"  " "
"     X = 13,2 cm"
Setelah perhitungan diatas dilakukan dan mendapatkan hasil beruapa titik koordinat X dan Y, langkah selanjutnya adalah memplot titik-titik tersebut kedalm peta besar untuk mengetahui jarak datarnya yang dimana untuk koordinat titik X dimulai dari koordinat garis 06ยบ kebawah dengan jarak 13,2 cm dan untuk penarikan garis koordinat Y dilakukan dari koordinat 107ยบ kekanan dengan jarak 3,85 cm.setelah titik koordinat X dan Y di plot maka didapat sebuah garis berpotongan yang merupakan titik dimana lokasi yang kita plot dari peta kecil.
Untuk menentukan lokasi yang akan digambarkan peta geologinya maka diambil 4 titik koordinat dari peta kecil yang telah ditentukan oleh asisten sebelumnya dan melalui cara perhitungan yang sama seperti diatas namun 3 titik yang lainnya memiliki koordinat masing-masing dan nantinya setelah dihitung dan diketahui titik X dan Y dan dilakukan plot maka didapat sebuah daerah berdasarkan peta kecil yang akan dibuat peta geologinya.
Hasil plot dari peta besar kemudian dilakukan plot kembali kedalam peta kecil untuk mengetahui batas-batas garis dalam penentuan daerah jenis dan sebaran batuannya. Dilakukan dengan cara perhitungan perbandingan beda skala antara peta besar dan peta kecil untuk mengetahui berapa jarak datar dari X dan Y nya. Skala perbandingan antara peta besar dan peta kecil adalah 20 cm.
Setelah diketahui bentuk garis yang menjadi lokasi atau daerah sebaran batuan tersebut dilakukan pewarnaan sebagaimana dalam peta geologi jenis batuan dan sebaran batuan dilambangkan dengan warna-warna  untuk membedakan jenis batuan yang satu dan yang lainnya dalam sebuah daerah yang berbeda.



BAB IV
ANALISA


Dalam praktikum kali ini yaitu tentang peta geologi, dipelajari tentang bagaimana cara membuat sebuah peta geologi dari peta topgrafi yang telah dibuat sebelumnya. Dalam pembuatannya dilakukan dengan memplot lokasi yang akan dibuat peta geologinya terhadap peta besar Jawa Barat untuk mengetahui jenis batuan dan bagaimana sebaran batuan yang ada pada daerah atau lokasi tersebut.
Untuk cara memplot peta dan menentukan jarak datar untuk setiap penghubungan setiap titik agar menjadi sebuah garis yang membatasi daerah lokasi sebaran batuan dilakukan dengan cara perbandingan skala besar terhadap skala kecil.
Pewarnaan yang dilakukan terhadap daerah yang ditentukan mengacau tehadap keterangan peta yang telah tercantum dalam legenda peta besar Jawa barat. Pewarnaan ini bertujuan untuk mengetahui dan membedakan jenis dan sebaran batuan pada derah tertentu. Dimana dalam peta geologi keterangan warna ini dijadikan sebagai simbol suatu jenis batuan dan sebarannya.



BAB V
KESIMPULAN


Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan kami dapat menarik kesimpulan yaitu pembuatan peta geologi bertujuan untuk menggambarkan tentang keadaan lokasi yang terdapat jenis dan sebaran batuan. Di simbolkan dengan warna tiap daerah yang mempunyai perbedaan jenis batuan didalamnya.
Dalam pembuatan peta geologi untuk daerah yang ditentukan dilakukan dengan cara memplot peta daerah yang akan dibuat peta geologinya ke dalam peta besar geologi Jawa barat
Perhitungan dengan menggunakan perbandingan antara skala besar dan skala kecil didapat kan hasil berupa garis pembatas saerah yang didalamnya terdapat jenis dan sebaran batuannya.
Untuk kegunaan dari peta geologi sendiri yaitu untuk membantu dan mempermudah kita untuk dapat menemukan suatu endapan mineral maupun sumberdaya alam lainnya yang berada dibawah permukaan bumi ini karena dari peta geologi ini kita dapat mengetahui bagaimana struktur batuannya, statigrafi dan berbagai potensi sumberdaya alam lainnya.



DAFTAR PUSTAKA


Geologiminyak, 2012, “Peta geologi dan pengertian peta geologi”,
http://geologiminyak.blogspot.com/2012/03/bagian-peta-topografi.html. Diakses tanggal 26 april 2013 (html, online).
Anwno, Andi, 2010, “Komponen peta dan legenda peta”, http://andimanwno.wordpress.com/2010/07/03/kompenen-peta-simbol-dan-legenda.html. Diakses tanggal 26 april 2013 ( html, online).


Modul Peta Topografi

PENGENALAN PETA TOPOGRAFI

Peta merupakan gambaran dua dimensi dari suatu obyek yang dilihat dari atas yang ukurannya direduksi. Hakekat dari interpretasi peta topografi adalah sebagai pelengkap ilmu geologi dengan latihan teknik penafsiran geologi melalui peta topografi.


Pengenalan  Peta Topografi

Pengertian dari peta topografi adalah peta yang menggambarkan bentuk penyebaran dan ukuran dari roman muka bumi yang kurang lebih sesuai dengan daerah yang sebenarnya.
Unsur-unsur yang penting terdapat dalam suatu peta topografi meliputi :

1.       Relief
Adalah beda tinggi suatu tempat atau gambaran kenampakan tinggi rendah suatu daerah serta curam landainya sisi-sisi perbukitan. Jadi menunjukkan perbedaan tinggi rendahnya permukaan bumi.
Sebagai contoh :          
•          bukit                  
•          lembah
•          daratan            
•          lereng
•         pegunungan
Relief terjadi antara lain karena perbedaan resistensi antara batuan terhadap proses erosi dan pelapukan (eksogen) juga dipengaruhi gejala-gejala asal dalam (endogen) perlipatan, patahan, kegiatan gunung api dan sebagainya. Dalam peta topografi penggambaran relief dengan :

•         Garis hachures
Yaitu garis-garis lurus yang ditarik dari titik tertinggi ke arah titik yang lebih rendah disekitarnya dan ditarik searah dengan lereng. Semakin curam lerengnya maka semakin rapat pula garisnya sebaliknya garis akan renggang jika reliefnya landai.

•         Shading (bayangan)
Bayangan matahari terhadap earth feature dan biasanya dikombinasi dengan peta kontur. Pada daerah yang curam akan memberikan bayangan gelap sebaliknya daerah yang lancai berwarna cerah.

•        Tinting (pewarnaan)
Warna-warna tertentu. Semakin tinggi reliefnya warna akan semakin gelap.

•        Kontur
Yaitu dengan cara menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. Peta ini paling penting untuk geologi karena sifatnya kualitatif dan kuantitatif.
Kualitatif : hanya menunjukkan pola dan penyebarannya bentuk-bentuk roman muka bumi.

Kuantitatif : selain menunjukkan pola dan penyebaran bisa juga mengetahui ukuran baik secara horisontal maupun vertikal sehingga jelas gambaran tida dimensinya.

2.         Drainage
Drainage pattern/pola pengaliran atau pola penyaluran adalah segala macam bentuk-bentuk yang hubungannya dengan penyaluran air baik di permukaan maupun di bawah permukaan bumi. Sebagai contoh sungai-sungai, danau atau laut dan sebagainya. Sungai-sungai itu sendiri dipermukaan bumi ada yang terpolakan dan tidak terpolakan. Hal ini tergantung dari batuan dasar yang dilaluinya.

Dalam hal ini pola/pattern didefinisikan sebagai suatu keseragaman di dalam :
-          bentuk (shape)
-          ukuran (size)
-          penyebarannya/distrubusi

Hubungan antar relief, batuan, struktur geologi dan drainage dalam macam-macam pola penyaluran :
a.   Dendritik
Mencerminkan sedimen yang horisontal atau miring, resistensi batuan seragam, kemiringan lereng secara regional kecil. Bentuk pola penyaluran seperti pohon. Contohnya pada daerah dengan sedimen lepas, daratan banjir, delta, rawa, pasang surut, kipas-kipas alluvial, dll.

b.   Parallel
Umumnya mencirikan kemiringan lereng yang sedang-curam tetapi juga didapatkan pada daerah-daerah dengan morfologi yang parallel dan memanjang. Contohnya pada lereng-lereng gunung api. Biasanya akan berkembang menjadi pola dendritik atau trellis.

c.    Trellis
Terdapat pada daerah dengan batuan sedimen yang terlipat, gunung api, daerah dengan rekahan parallel. Contohnya pada perlipatan menujam, patahan parallel, homoklin dan sebagainya.

d.    Rectangular
Mengikuti kekar-kekar dan patahan.

e.    Radial
Mencerminkan gunung api kubah (dome). Terdapat pula pola yang sentripetal (kebalikan dari radial).

f.    Annular
Mencerminkan struktur kubah yang telah mengalami erosi bagian puncaknya.
Dari contoh-contoh pola pengaliran tersebut merupakan pola dasar penyaluran yang sangat membantu untuk penafsiran suatu struktur geologi.

3.       Culture
Yaitu segala bentuk hasil budi daya manusia. Misalnya perkampungan, jalan, persawahan dan sebagainya. Culture membantu geologi dalam penentuan lokasi. Pada umumnya pada peta topografi, relief akan digambarkan dengan warna coklat, drainage dengan warna biru dan culture dengan warna hitam.

4.       Kelengkapan Peta Topografi
Pada peta topografi yang baik harus terdapat unsur/keterangan yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan penelitian atau kemiliteran, yaitu :
a.        Skala
Merupakan perbandingan jarak horisontal sebenarnya dengan jarak pada peta. Perlu diketahui bahwa jarak yang diukur pada peta adalah menunjukkan jarak-jarak horisontal. Ada 3 macam skala yang biasa dipakai dalam peta topografi.
1.       Representative Fraction Scale (Skala R.F.)
Ditunjukkan dengan bilangan pecahan. Contohnya 1 : 10.000. Artinya 1 cm di dalam peta sama dengan 10.000 cm di lapangan (sama dengan 100 meter di lapangan). Kelemahan dari skala ini bila peta mengalami pemuaian/penciutan maka skala tidak berlaku lagi.
2.       Graphic Scale
 Yaitu perbandingan jarak horisontal sesungguhnya dengan jarak dalam peta, yang ditunjukkan dengan sepotong garis. Contohnya

                                                                        0                      300 m
Skala ini adalah paling baik karena tidak terpengaruh oleh pemuaian maupun penciutan dari peta.

3.       Verbal Scale
Dinyatakan dengan ukuran panjang. Contohnya 1 cm = 10 km ato 1 cm = 5 km.
Skala ini hampir sama dengan skala R.F.
Dari ketiga macam skala tersebut di atas, yang umum/paling banyak digunakan dalam peta geologi atau topografi adalah kombinasi skala grafis dan skala R.F.

b.        Arah Utara Peta
Salah satu kelengkapan peta yang tidak kalah penting adalah arah utara, karena tiap peta yang dapat digunakan dengan baik haruslah diketahui arah utaranya. Arah utara ini berguna untuk penyesuaian antara arah utara peta dengan arah utara jarum kompas.



Ada 3 macam arah utara jarum kompas, yaitu :
1.        Arah Utara Magnetik (Magnetic North = MN)
2.        Grid North
3.        True North
c.        Legenda
Pada peta topografi banyak digunakan tanda untuk mewakili bermacam-macam keadaan yang ada di lapangan dan biasanya terletak di bagian bawah dari peta.

d.        Judul Peta
Judul peta merupakan nama daerah yang tercantum dalam peta dan berguna untuk pencarian peta bila suatu waktu diperlukan.

e.        Converage Diagram
Maksudnya peta tersebut dibuat dengan cara atau metoda yang bagaimana, hal ini untuk dapat memperkirakan sampai sejauh mana kebaikan/ketelitian peta, misalnya :
- Dibuat berdasarkan foto udara
- Dibuat berdasarkan pengukuran di lapangan

f.         Indeks Administrasi
Pembagian daerah berdasarkan hukum pemerintahan, hal ini penting untuk memudahkan pengurusan surat izin untuk melakukan atau mengadakan penelitian/pemetaan.

g.       Index of Adjoining Sheet
Menunjukkan kedudukan peta yang bersangkutan terhadap lembar-lembar peta disekitarnya.
h.       Edisi Peta
Dapat dipakai untuk mengetahui mutu daripada peta atau mengetahui kapan peta tersebut dicetak atau dibuat.

Peta topografi dengan garis kontur
Untuk memahami peta kontur perlu dipelajari terlebih dahulu tentang garis kontur beserta sifat-sifatnya yang antara lain adalah sebagai berikut :
1.         Garis Kontur
Adalah merupakan garis-garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama, yang diukur dari suatu bidang pembanding. Bidang ini biasanya diambil dari permukaan air laut rata-rata.

2.         Interval Kontur
Jarak vertikal antara garis kontur satu dengan garis kontur lainnya yang berurutan.

3.         Indeks Kontur
Garis kontur yang dicetak tebal pada peta, yang mana merupakan kelipatan tertentu dari beberapa garis kontur (kelipatan lima atau sepuluh).

4.         Kontur Setengah
Garis kontur yang harga ketinggiannya adalah setengah interval kontur. Biasanya digambar dengan garis putus-putus.

Penentuan interval kontur.
Biasanya interval kontur pada peta tergantung dari :
a.         Skala peta
b.         Relief dari daerah yang bersangkutan
c.         Tujuan dari peta, apakah untuk pekerjaan geologi umum maupun geologi teknik atau untuk kepentingan militer. Jika tidak ada hal-hal khusus atau dalam keadaan umum, maka interval kontur dapat ditentukan sebagai berikut :

IK (Interval Kontur) = skala peta  X  1/2000
Misalnya skala peta 1 : 50.000
IK = 50.000  X  1/2000   = 25 meter

Sifat-sifat garis kontur :
1.    Garis tidak bisa saling berpotongan kecuali dalam keadaan yang ekstrim, dimana topografi berupa over hanging cliff.
2.    Garis kontur tidak akan bertemu dengan garis kontur yang mempunyai nilai ketinggian yang berlainan.
3.    Garis kontur akan renggang jika topografi landai dan akan rapat jika topografi curam.
4.    Garis kontur menutup, menunjukkan naik ke arah dalam, kecuali garis kontur bergigi menunjukkan depresi.
5.    Garis kontur yang memotong lembah/sungai akan meruncing ke hulu.
6.    Garis kontur harus digambarkan hingga batas tepi peta.

Menentukan titik ketinggian :
a.          Pada indeks kontur langsung diketahui.
b.          Pada intermediate kontur dihitung dari indeks kontur dengan memperlihatkan interval kontur.
c.           Diantara intermediate kontur dengan cara interpolasi.
Misal          : Tinggi titik = x
                                    = 150 + (3/4 x 25)
                                    = 168 meter
d.          Titik triangulasi.

Quadrangle System Peta Topografi di Indonesia
Indonesia mempunyai luas + 2.800.000 km2 dan terletak pada 6oLU – 11oLS dan 95oBT – 140oBT. Dalam pembuatan peta topografinya, dimana untuk memudahkan penyusunan registrasinya, maka Indonesia dilakukan sistem Quadrangle. Adapun sistem quadrangle di Indonesia ada dua macam, yaitu  Sistem lama dan Sistem Baru, perbedaannya adalah pada perbandingan luas peta, notasi dan pembagian derajat bujurnya.
1.           Quadrangle Peta Sistem Lama
-          Pembagian kotak-kotak dengan luas 20’ X 20’
-          Titik 0o bujur di Jakarta, titik 0o Lintang Equator
-          Penomoran garis-garis lintang dengan angka romawi, sedang penomoran garis bujur dengan angka Romawi.
             
               Contoh :          
-          No. lembar peta 45/XXI
                           Berskala 1 : 100.000
-          No. lembar peta 45/XXI-A
                           Berskala 1 : 50.000
-          No. lembar peta 45/XXI-c
                           Berskala 1 : 25.000
                           Luasnya + 9 x 9 km2.
2.           Quadrangle Peta Sistem Baru
Perhatikan perubahan angka vertikal maupun horisontal.
-          Pembagian kotak-kotak 30’ X 20’
-          Titik 0o Lintang pada Equator
-          Titik 0o Bujur di Greenwich.
Contoh :      -        Peta dengan No. 1550
                     Berskala 1 : 100.000
                     -     Peta dengan No. 1550-I
                           Berskala 1 : 50.000

Profil Topografi (Penampang Topografi)
Untuk mengetahui kenampakan morfologi dan kenampakan struktur geologi pada suatu daerah, maka diperlukan suatu penampang tegak atau profil (section). Penampang tegak atau sayatan tegak adalah gambaran yang memperlihatkan profil atau bentuk dari permukaan bumi. Profil ini diperoleh dari line of section yang telah ditentukan lebih dulu pada peta topografi, misalnya A – A’ atau B – B’.

Skala pada profil :
a.    Skala normal (nature scale) : yaitu skala vertikal diperbesar sama dengan skala horisontal.
b.    Skala perbesaran (exaggerated) : yaitu skala vertikal diperbesar lebih besar dari skala horisontal.
Persyaratan pembuatan profil :
a.     Profil line/topographic line yaitu garis potong antara permukaan bumi dengan bidang vertikal.
b.     Base line letaknya mendatar dipilih pada jarak tertentu di daerah profil line, dimana tinggi base line tergantung kebutuhan. Seingkali dipilih 0 meter sesuai ketinggian permukaan air laut. Pada base line terletak jarak mendatar sesuai dengan jarak horisontal.
c.     End line/garis samping dikiri dan kanan tegak lurus base line. Disini tertera angka ketinggian sesuai interval kontur.

Guna peta Topografi dalam Geologi :
Secara khusus peta topografi digunakan untuk merekam segala data geologi, misalnya :
-          penyebaran batuan
-          struktur geologi
-          morfologi suatu daerah dan sebagainya
selain itu juga untuk memudahkan rekonstruksi genesa, cara terjadinya dan konfigurasi aspek-aspek geologis di atas.

Batuan Beku, Sedimen, Dan Metamorf

BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang
Hampir semua kebutuhan kita sehari-hari diperoleh dari bumi mulai dari perhiasan, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi hingga ke bahan energinya, seperti minyak dan gas bumi serta batubara. Dan hampir setiap bentuk kegiatan manusia akan berhubungan dengan bumi, baik itu berupa pembangunan teknik sipil seperti bendungan, jembatan, gedung-gedung bertingkat yang dibangun diatas permukaan bumi, maupun untuk memenuhi kebutuhannya seperti bahan-bahan tambang maupun energi seperti migas dan batubara, yang harus digali dan diambil dari dalam bumi. Di bumi ini terdapat berbagai macam dan jenis batuan.
Di Indonesia, hampir di seluruh pelosok negeri ini terdapat berbagai macam batuan. Batuan Beku, Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf adalah contohnya. Berikut adalah penjabaran tentang Batuan Beku, Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf.
Batuan Beku berfokus pada komposisi dan tekstur dari Batuan Beku (batuan seperti granit atau basalt yang telah mengkristal dari batu lebur atau magma). Batuan Beku mencakup batuan vulkanik dan plutonik.
Batuan Sedimen berfokus pada komposisi dan tekstur dari Batuan Sedimen (batuan seperti batu pasir atau batu gamping yang mengandung partikel-partikel sedimen terikat dengan matrik atau material lebih halus).
Batuan Metamorf berfokus pada komposisi dan tekstur dari Batuan Metamorf (batuan seperti batu sabak atau batu marmer yang bermula dari batuan asal yaitu Batuan Sedimen atau Batuan Beku tetapi telah melalui perubahan kimia, mineralogi atau tekstur dikarenakan kondisi ekstrim dari perubahan suhu, tekanan atau keduanya).
Oleh karena itu AKAMIGAS Balongan mengadakan Praktikum Geologi Dasar mengenai batuan untuk menambah wawasan Mahasiswa dan Mahasiswi Program Studi Teknik Perminyakan agar lebih mengenal berbagai macam jenis batuan yang terdapat di alam.
Berdasarakan pernyataan diatas maka penyusun tertarik untuk mengadakan penelitian tentang ilmu geologi melalui praktikum geologi dan dalam hal ini penyusun sudah melaksanakan praktikum tersebut. Oleh karena itu, penyusun bermaksud menyusun laporan praktikum. Sehingga laporan praktikum ini berjudul“ LAPORAN RESMI PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR”.

1.2           Tujuan
1.2.1         Tujuan Umum
1.       Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dalam perkuliahan dengan cara mengidentifikasi batuan.
2.       Melatih dalam membuat laporan resmi.
3.       Menyelesaikan kewajiban tugas Mata Kuliah Geologi Dasar.
4.       Sebagai salah satu syarat mengikuti ujian akhir semester.
5.       Memperdalam ilmu  yg di terapkan diperkuliahan.
6.       Sebagai pengalaman dalam praktikum Mata Kuliah Geologi Dasar.
7.       Untuk mengetahui klasifikasi batuan dalam Mata Kuliah Geologi Dasar
8.       Untuk mengukur kemampuan mahasiswa melakukan praktikum.
9.       Sebagai syarat sidang yudisium.
10.   Mempertanggung jawabkan hasiI praktikum yang teIah diIaksanakan.
1.2.2         Tujuan Khusus
1.      Mengetahui macam-macam Batuan Beku.
2.      Mengetahui macam-macam Batuan Sedimen.
3.      Mengetahui macam-macam Batuan Metamorf.
4.      Memperluas wawasan tentang batuan yang ada di bumi.
5.      Memahami dan mengetahui fungsi batuan menambah.
6.      Mengenal berbagai jenis batuan beku hingga akhirnya dapat menentukan penamaan batuan.
7.      Mengetahui sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh batuan .
8.      Mendeskripsikan masing-masing jenis batuan secara megaskopis.
9.      Mengklasifikasi batuan.
10.  Mengetahui struktur tekstur dan komposisi mineral batuan.

1.3           Manfaat
1.3.1         Manfaat Umum
1.      Dapat mengenali macam-macam batuan apa saja yang terdapat di alam.
2.      Dapat mengetahui klasifikasi berbagai macam jenis batuan.
3.      Dapat mengetahui lebih mendalam lagi tentang berbagai macam jenis batuan dan klasifikasinya.
4.      Dapat menambah pengetahuan kita khususnya di bidang ilmu geologi.
5.      Dapat mengenaIi apa yang ada di bumi.
6.      Dapat mengetahui struktur, tekstur dan komposisi mineral yang dimiliki oleh Batuan.
7.      Dapat mengenali tentang bumi menggunakan peta topografi.
8.      Dapat mempelajari peta topografi.
9.      Dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dalam pengetahuan batuan
10.  Dapat mendeskripsikan batuan-batuan yang telah dipelajari

1.3.2         Manfaat Khusus
1.      Dapat membedakan sifat-sifat fisis yang dimiliki oleh Batuan Beku, Batuan Sedimen, dan Batuan Metamorf.
2.      Dapat mendeskripsikan macam-macam batuan.
3.      Dapat mengetahui sejauh mana kemampuan kita dalam mengenali batuan-batuan.
4.      Dapat mengenali batuan Beku, Batuan Sedimen, dan Batuan metamorf
5.      Dapat membedakan antara Batuan Beku, Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf.
6.      Dapat mengetahui mineral-mineral yang terkandung dalam Batuan Beku, Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf
7.      Dapat mengetahui struktur, tekstur dan komposisi mineral pada batuan
8.      Dapat memperluas wawasan tentang batuan yang ada di bumi.
9.      Dapat memahami dan mengetahui fungsi batuan Menambah.
10.  Dapat mengenal berbagai jenis batuan beku hingga akhirnya dapat menentukan penamaan batuan.

1.4           Ruang Lingkup

Pelaksanaan Laporan Praktikum Geologi Dasar mengenai batuan dilakukan di Kampus satu AKAMIGAS BALONGAN. Praktikum Geologi Dasar pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Desember 2014  tentang Batuan Beku. Pada hari Jumat, 12 Desember 2014 dilaksanakan praktikum kedua tentang Batuan Sedimen dan pada hari Senin, 15 Desember 2014 dilaksanakan praktikum ketiga tentang Batuan Metamorf. Pada hari Rabu, 17 Desember 2014 dilaksanaka praktikum keempat tentang Topografi. Praktikum tersebut diikuti oleh Mahasiswa dan Mahasiswi Semester I  AKAMIGAS BALONGAN Program Studi Teknik Perminyakan dibawah bimbingan Ismanu Yudiantoro, ST, MT. Praktikum dilaksanakan agar Mahasiswa dan Mahasiswi dapat mengetahui macam-macam batuan, jenis-jenis batuan dan komposisi batuan.

BAB II
DASAR TEORI
2.1      Batuan Beku
Batuan beku atau batuan iqneus adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik dibawah permukaan bumi maupun diatas permukaan bumi dimana magma ini dapat berasal dari proses konvergensi antar batuan sehingga batuan hasil tumbukan mencair sehingga menjadi magma.
Klasifikasi dari batuan beku dapat kita bedakan dari tempat proses pembetukannya dimana terbagi menjadi dua, yaitu: batuan beku intrusif (batuan yang membeku dibawah permukaan bumi) dan batuan beku ekstrusif (batuan yang membeku diatas permukaan bumi).
Struktur dari batuan beku ada lima, yaitu Masif (tidak menunjukkan adanyalubang-lubang), Vesikuler (berlubang-lubang dengan arah yang teratur), Skoria (berlubang-lubang besar tapi dengan arah yang tidak teratur), Amigdaloidal (lubang-lubang gas telah terisi mineral-mineral sekunder) dan Xenolitis (struktur yang memperlihatkan adanya fragmen yang masuk kedalam batuan yang mengintrusi)
Tekstur dari batuan beku meliputi Derajat Kristalisasi merupakan banyaknyakristal yang terdapat pada batuan (Holokristalin, Holohyalin dan hipokristalin), Granularitas merupakan besar butir pada batuan beku (Fanerik dan Afanitik), BentukKristal merupakan sifat dari suatu Kristal dalam batuan, Relasi merupakan hubunganantar Kristal atau mineral satu dengan mineral lainnya dalam suatu batuan.
Komposisi mineral  batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan indeks warna dan bentuk kristal atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku adalah Mineral felsik (mineral yang bewarna terang terutama kwarsa, feldspar, feldspatorid dan muscovite) dan Mineral mafik (mineral yang berwarna gelap terutama biotic, olivine, piroksin dan amphibol
Batuan beku atau batuan iqneus adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik dibawah permukaan bumi maupun diatas permukaan bumi dimana magma ini dapat berasal dari proses konvergensi antar batuan sehingga batuan hasil tumbukan mencair sehingga menjadi magma.
Klasifikasi dari batuan beku dapat kita bedakan dari tempat proses pembetukannya dimana terbagi menjadi dua, yaitu: batuan beku intrusif (batuan yang membeku dibawah permukaan bumi) dan batuan beku ekstrusif (batuan yang membeku diatas permukaan bumi).
Batuan beku sering kita jumpai di daerah lereng pegunungan. Batuan Beku sendiri merupakan batuan yang berasal dari hasil pembentukan magma yang mempunyai tekstur hablur (kristalin). Pembentukan Batuan Beku berasal dari pembekuan magma yang ada dibawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava dipermukaan bumi. Magma merupakan cairan kental yang berasal darilarutan silika dan terbentuk secara alamiah, yang memiliki temperatur tinggi antara 1.500°C sampai 2.500°C dan bersifat mudah bergerak serta terletak pada kerak bumi bagian bawah. Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan menuju permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa ini disebut dengan penghabluran.
Batuan Beku disusun oleh senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral penyusun Batuan Beku. Salah satu klasifikasi Batuan Beku dari kimia adalah dari senyawa oksidanya, seperti Silikat oksida (SiO2), Titanium oksida (TiO2), Aluminium oksida (AlO2), Besi (II) oksida (Fe2O3), Besi oksida (FeO), Mangan oksida (MnO), Magnesium oksida (MgO), Kalsium oksida (CaO), Sodium oksida (Na2O), Potasium oksida (K2O), air (H2O+), Porporus penthoxide (P2O5), dari persentase setiap senyawa kimia dapat mencerminkan beberapa lingkungan pembentukan mineral.
Analisa kimia batuan dapat dipergunakan untuk penentuan jenis magma asal, pendugaan temperatur pembentukan magma, kedalaman magma asal, dan banyak lagi kegunaan lainya. Dalam analisis kimia Batuan Beku, diasumsikan bahwa batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang sama dengan magma sebagai pembentukannya. Batuan Beku yang telah mengalami ubahan atau pelapukan akan mempunyai komposisi kimia yang berbeda. Karena itu batuan yang akan dianalisa harusla batuan yang sangat segar dan belum mengalami ubahan. Namun begitu sebagai catatanpengelompokan yang didasarkan kepada susunan kimia batuan, jarang dilakukan. Hal ini disebabkan disamping prosesnya lama dan mahal, karena harus dilakukan melalui analisa kimiawi
Berdasarkan komposisi mineralnya Batuan Beku dibagi menjadi tiga jenis batuan, yaitu:
•            Batuan Beku asam
•            Batuan Beku intermediet
•            Batuan Beku asam
Namun seiring dengan berkembangnya zaman, klasifikasi batuan telah dikembangkan lagi. Sehingga dapat diklasifikasikan lebih mendetail. Salah satunya adalah klasifikasi batuan dilihat dari segi kimiawi. Klasifikasi secara kimiawi ini berdasarkan atas persentase kandungan SiO2, yaitu:
•            Batuan Beku asam yaitu > 66% SiO2.
•            Batuan Beku intermediet yaitu 52% - 66% SiO2.
•            Batuan Beku basa yaitu 45% - 52% SiO2.
•            Batuan Beku ultra basa yaitu < 45% SiO2.
1.         Struktur
Struktur batuan beku umumnya dapat dilihat dilapangan saja dan hanya beberapa saja yang dapat dilihat dalan hand specimen sample:
•      Masif yaitu Batuan Beku yang tidak menunjukan adanya lubang-lubang ataustruktur aliran.
•      Vesikuler yaitu Batuan Beku yang berlubang-lubang yang disebabkanoleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma, arah lubang itu teratur.
•      Scoria yaitu Batuan Beku yang berlubang-lubang besar tetapi arah tidak teratur.
•      Amigdaloidal yaitu Batuan Beku yang lubang-lubangnya terisi oleh mineralsekunder.
2.   Tekstur
Tekstur adalah hubungan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan. Untuk Batuan Beku, pengamatan tekstur meliputi:
•         Derajat Kristalisasi yang terbagi menjadi 3, yaitu:
  Holokristalin yaitu apabila batuan terdiri dari massa kristalseluruhnya.
  Holohyalin yaitu batuan terdiri dari massa gelas seluruhnya.
  Hipokrislatin yaitu sebagian terdiri dari massa kristal dan massa gelas.
•         Granularitas terbagi menjadi 2, yaitu:
  Fanerik yaitu apabila kristal-kristalnya jelas sehingga dapat dibedakan dengan mata biasa, antara lain:
-         Halus dengan diameter < 1 mm.
-         Sedang dengan diameter 1 sampai 5 mm.
-         Kasar dengan diameter 5 sampai 30 mm.
-         Sangat kasar dengan diameter > 30 mm.
  Afanitik yaitu apabila kristal-kristalnya sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan pandangan mata biasa.

•         Bentuk Kristal, terbagi menjadi 3, yaitu:
  Euhedral yaitu apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
  Subhedral yaitu apabila sebagian dari batas-batas mineral sudah tidak tampak lagi.
  Anhedral yaitu apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.
•         Relasi terbagi menjadi 2, yaitu:
  Equigranular yaitu bila secara relative ukuran kristal pembentuk batuan berukuran sama besar.
  Inequigranular yaitu bila ukuran kristal pembentuknya tidak sama.
3.         Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral kita cukup menggunakan indeks warna dari bentuk kristal, sebagai dasar penentuan mineral penyusun batuan. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokan menjadi dua:
•            Mineral Felsik yaitu yang berwarna cerah terutama kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muscovite.
•         Mineral Mafik yaitu yang berwarna gelap terutama biotic, piroksen, amphiboldan olivine.
Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan. Batuan Beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang  tersusun atas mineral-mineral felsik,misalnya kuarsa, potash feldsfar dan muskovit. Batuan Beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya Batuan Beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Batuan Beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah Batuan Beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.

2.2      Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari proses pengendapan batuan, dengan proses dari pelapukan batuan oleh suhu yang tinggi, pengikisan batuan oleh air dan angin,transportasi batuan dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah, deposisi yaitu ketika proses transportasi tidak bisa lagi membawa batuan dimana ditransportasi oleh media air dan angina atau dipengaruhi oleh gaya gravitasi, dan proses lithifikasi dimana dibagi menjadi yaitu kompaksi (proses perubahan butiran yang lebih padat) dan sedimentary (proses perekatan antar butir batuan).
Batuan Sedimen merupakan batuan yang terbentuk karena lithifikasi dari hancurnya batuan yang lain (detritus) atau lithifikasi reaksi kimia tertentu yang berada di alam. Lithifikasi sendiri merupakan proses-proses yang meliputi kompaksi, sementasi,authogenic dan diagenesa, yaitu proses terubahnya material pembentuk batuan yang bersifat lepas menjadi batuan kompak. Batuan ini dibentuk oleh proses yang ada di permukaan bumi.
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan yang berupa bahan lepas.  Menurut Pettijohn (1975), Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di permukaan bumi berupa Batuan Sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume seluruh kerak bumi. Ini berarti Batuan Sedimen tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis.
Volume Batuan Sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya mengandung 5% yang diketahui di litosfer dengan ketebalan 10 mil di luar tepian benua, dimana Batuan Beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan-batuan sedimen menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapan dari Batuan Beku sebesar 25% saja. Batuan Sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan Batuan Sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhi oleh Batuan Sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis dari 0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata-rata sekitar 1 kilometer (Endarto, 2005).
Batuan Sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan antara beberapa sentimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting lagi yang termasuk kedalam Batuan Sedimen. Dibanding dengan Batuan Beku, Batuan Sedimen hanya merupakan tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan Sedimen hanya 5% dari seluruh batuan-batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5% ini, batu lempung adalah 80%,batupasir 5% dan batu gamping kira-kira 80% (Pettijohn, 1975).
Sedimen tidak hanya bersumber dari darat saja tetapi dapat juga dari yang terakumulasi di tepi-tepi cekungan yang melengser kebawah akibat gaya gravitasi. Meskipun secara teoritis dibawah permukaan air tidak terjadi erosi, namun masih ada energi air, gelombang dan arus bawah permukaan yang mengikis terumbu-terumbu karang di laut dan hasil kikisannya terendapkan di sekitarnya.
Oleh Koesoemadinata (1979) telah membedakan Batuan Sedimen menjadi 5 golongan, yaitu:
•         Golongan Detritus
Golongan ini berdasarkan besar butirannya, golongan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
  Golongan detritus halus, bisa dikenali melalui butiran penyusun batuannya yang relatif berukuran halus, 0 (diameter) kurang dari  mm sebagai hasil sedimentasi mekanis.
  Golongan detritus kasar, dapat dikenali melalui butiran penyusun batuannya yang relatif berukuran kasar, 0 (diameter) lebih besar dari  mm dan pada umumnya dihasilkan oleh sedimentasi mekanis.
•         Golongan Karbonat
Golongan karbonat disusun oleh kelompok mineral karbonat (kalsit, dolomit, aragonit) dan cangkang binatang karang. Golongan ini terbentuk sebagai hasil sedimentasi mekanis (batu gamping terumbu) dan sedimentasi kimia (batu gamping kristalin, dolomit). Golongan ini dapat terbentuk sebagai hasil:
  Sedimentasi mekanis    : Gamping Bioklastik
  Sedimentasi organis      : Gamping Terumbu
  Sedimentasi kimiawi     : Gamping Kristalin
•         Golongan Evaporit
Golongan evaporit ini diberikan terhadap batuan garam, karena asal sebab terjadinya disebabkan oleh proses evaporasi air laut. Golongan ini umumnya terdiri dari batuan monomineralik. Nama batuan sama dengan nama mineralnya. Sebagai contoh adalah gipsum (Ca SO4 2H2O), anhidrit (CaSO4) dan halite (NaCl).
•         Golongan Sedimen Silika
Golongan batuan ini termasuk juga batuan yang memiliki sifat monomineralik, serta pada umumnya tersusun oleh mineral silika. Dapat terbentuk secara sedimentasi kimiawi atau organik. Contoh batuannya adalah rijang (chert), radiolarid dan diatomed.
•         Golongan Batu Bara
Golongan ini terbentuk oleh adanya akumulasi zat-zat yang kaya akan unsur karbon, yang pada umunya terdiri dari tumbuhan. Termasuk jenis sedimentasi organis. Contohnya adalah gambut, bituminous dan antrasit.
1.      Sifat-sifat utama yang dimiliki Batuan Sedimen yaitu:
•            Perlapisan (bedding, stratifikasi) yang menandakan adanya proses sedimentasi.Hal ini berlaku untuk segala macam batuan sedimen walaupun tidak selalu nyata dalam contoh”hand speciment”.
•            Klastik atau fragmen yang menandakan butiran-butirannya pernah lepas, terutama pada golongan karbonat.
•            Sifat jejak atau bekas zat hidup, seperti cangkang atau rumah organisme (koral), terutama pada golongan karbonat.
•            Jika bersifat hablur maka akan bersifat monomineralitik. Contohnya Gipsum, kalsit, dolomit, halit dan sebagainya.
Sifat-sifat tersebut dapat dipakai untuk mengenal Batuan Sedimen. Didalam pemerian Batuan Sedimen secara megaskopis faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah:
•            Komposisi mineral
•            Tekstur
•            Struktur
2.      Berdasarkan cara terjadinya Batuan Sedimen dibagi atas:
A.    Batuan Sedimen Klastik
Batuan Sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali dari batuan detritus atau pecahan batuan asal.Batuan asal bisa terdiri dari Batuan Beku, Batuan Sedimen atau Batuan Metamorf. Didalam pemerian Batuan Sedimen klastik yang bertekstur kasar komposisi dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

•         Komposisi
Seperti telah disebutkan diatas bahwa pada Batuan Sedimen klastik bertekstur kasar pemerian komposisi mineralnya dibedakan atas:
  Fragmen adalah butiran pembentuk batuan yang berukuran paling besar. Fragmen dapat berupa butiran mineral, batuan dan fosil.
  Matrik adalah bagian dari butiran pembentuk batuan yang berukuran lebih kecil dari fragmen. Biasamya berkomposisi sama dengan fragmen.
  Semen adalah bahan pengikat antara matrik dan fragmen. Dalam Batuan Sedimen klastik dikenal ada tiga macam semen, yaitu karbonat (kalsit, dolomit), silikat (kalsedon, kuarsa), dan oksida besi (hematit, limonit).
•         Tekstur
  Ukuran Besar Butir (Grain Size)
Dalam pemerian ukuran butir digunakan pedoman ukuran dari “SkalaWentworth ”.
  Derajat Pemilahan (Sortasi)
Merupakan gambaran tingkat keseragaman dari butiran pembentuk Batuan Sedimen. Dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
-         Pemilahan baik (well sorted)
-         Pemilahan sedang (moderately sorted)
-         Pemilahan buruk (poorly sorted)
  Derajat Pembundaran (Roundness)
Merupakan nilai membulat atau meruncingnya fragmen pembentuk Batuan Sedimen. Dalam hal ini diberikan 6 kategori, yaitu:
-         Sangat Menyudut (Very angular)
-         Menyudut (angular)
-         Menyudut tanggung (sub-angular)
-         Membulat tanggung (sub-rounded)
-         Membulat (rounded)
-         Membulat baik (well rounded)
•            Struktur
  Struktur perlapisan dimana struktur ini merupakan sifat utama dari Batuan Sedimen klastik yang menghasilkan bidang-bidang sejajar sebagai hasil dari proses pengendapan
  Permeabilitas adalah kemampuan batuan tersebut untuk melewatkan fluida dalam medium berpori-pori yang saling berhubungan.
  Porositas adalah perbandingan antara volume batuan yang tidak terisi oleh padatan  terhadap  volume  batuan  secara  keseluruhan.
B.     Batuan Sedimen Non-Klastik
Batuan Sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme (sedimentasi organis) misalnya reaksi yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik (sedimentasi kimia). Contohnya gipsum, dolomit dan sebagainya.
•            Batuan Sedimen Organik
Batuan Sedimen yang dihasilkan oleh aktifitas organisme, terdapat sisa organisme yang biasanya tetap tinggal ditempatnya. Contoh dari Batuan Sedimen macam ini adalah gamping koral, diaotema dan lain-lain. Pada batuansedimen organik selalu terlihat struktur-struktur organismenya dengan jelas, walaupun sering kali juga terdapat rekristalisasi.
•            Batuan Sedimen Kimia
Sebagian dari sedimen macam ini dihasilkan oleh proses penguapan, terutama didaerah aride, contohnya adalah endapan gipsum, garam dan lain-lain. Batuan Sedimen kimiawi biasanya hanya terdiri dari satu macam susunan mineral saja, yang jelas walaupun bersifat hablur tetapi kilapnya adalah non-metalic. Pemerian Batuan Sedimen kimiawi meliputi warna, komposisi mineral, kilap, ukuran butir dan mineral. Teksturnya kristalin, amorf, gelas,fibrous dan sebagainya.

2.3      Batuan Metamorf
Batuan Metamorf merupakan batuan yang terbentuk karena perubahan dari batuan induk oleh suatu proses metamorphose. Batuan induk atau batuan asal tersebut berasal dari Batuan Sedimen, Batuan Beku dan Batuan Metamorf itu sendiri. Prosesmetamorphose adalah proses dimana batuan asal mengalami penambahan tekanan atau temperatur, bisa juga oleh kenaikan dari suhu dan temperatur secara bersamaan. Prosesmetamorphose ini berlangsung dari fase padat ke fase padat tanpa melalui fase cair. Hal ini sering disebut dengan proses isokimia, dimana komposisi kimia batuan tidak berubah, yang berubah adalah susunan mineraloginya.
Batuan asal atau batuan induk baik berupa Batuan Beku, Batuan Sedimen maupun Batuan Metamorf dan telah mengalami perubahan mineralogi, tekstur dan struktur sebagai akibat adanya perubahan temperatur (di atas proses diagenesa dan di bawah titik lebur 200oC sampai 350oC kurang dari T kurang dari 650oC sampai 800oC) dan tekanan yang tinggi (1 atmosfer kurang dari P kurang dari 10.000 atmosfer) disebut Batuan Metamorf. Proses metamorphose tersebut terjadi di dalam bumi pada kedalaman lebih kurang 3 km sampai 20 km. Winkler (1989) menyatakan bahwasannya proses-proses metamorphose itu mengubah mineral-mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh atau responterhadap kondisi fisika dan kimia di dalam kerak bumi yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.
Batuan Beku dan Batuan Sedimen dibentuk akibat interaksi dari proses kimia, fisika,biologi dan kondisi-kondisinya di dalam bumi serta di permukaannya. Bumi merupakan sistem yang dinamis, sehingga pada saat pembentukannya, batuan-batuan mungkin mengalami keadaan yang baru dari kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan yang luas di dalam tekstur dan mineraloginya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi pada tekanan dan temperatur di atas diagenesa dan di bawah pelelehan, maka akan menunjukkan sebagai proses metamorphose.
Suatu batuan mungkin mengalami beberapa perubahan lingkungan sesuai dengan waktu, yang dapat menghasilkan batuan polimetamorfik. Sifat-sifat yang mendasar dari perubahan metamorfik adalah batuan tersebut terjadi selama batuan berada dalam kondisi padat. Perubahan komposisi di dalam batuan kurang berarti pada tahap ini, perubahan tersebut adalah isokimia yang terdiri dari distribusi ulang elemen-elemen lokal dan volatil diantara mineral-mineral yang sangat reaktif. Pendekatan umum untuk menggambarkan batas antara diagenesa dan metamorphose adalah menentukan batas terbawah dari metamorphose sebagai kenampakan pertama dari mineral yang tidak terbentuk secara normal di dalam sedimen-sedimen permukaan, seperti epidot dan muskovit. Walaupun hal ini dapat dihasilkan dalam batas yang lebih basah. Sebagai contoh, metamorphose shale yang menyebabkan reaksi kaolinit dengan konstituen lain untuk menghasilkan muskovit. Bagaimanapun juga, eksperimen-eksperimen telah menunjukkan bahwa reaksi ini tidak menempati pada temperatur tertentu tetapi terjadi antara 200°C sampai 350°C yang tergantung pada pH dan kandungan potasium dari material-material disekitarnya. Mineral-mineral lain yang dipertimbangkan terbentuk pada awal metamorphose adalah laumonit, lawsonit, albit, paragonit atau piropilit. Masing-masing terbentuk pada temperatur yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, tetapi secara umum terjadi kira-kira pada 150°C atau dikehendaki lebih tinggi. Di bawah permukaan, temperatur di sekitarnya 150°C disertai oleh tekanan lithostatikkira-kira 500 bar.
Batas atas metamorphose diambil sebagai titik dimana kelihatan terjadi pelelehan batuan. Di sini kita mempunyai satu variabel, sebagai variasi temperatur pelelehan sebagai fungsi dari tipe batuan, tekanan lithostatik dan tekanan uap. Satu kisaran dari 650°C sampai 800°C menutup sebagian besar kondisi tersebut. Batas atas darimetamorphose dapat ditentukan oleh kejadian dari batuan yang disebut migmatit.
1.            Faktor yang mempengaruhi terbentuknya Batuan Metamorf
•            Metamorphosethermal atau kontak, yaitu metamorphose yang diakibatkan oleh kenaikan temperatur. Jenis ini biasanya ditemukan pada kontak antara tubuh intrusi magma atau ekstrusi magma dengan batuan disekitarnya.
•            Metamorphose dinamo atau dislokasi (kataklastik), yaitu salah satu jenismetamorphose yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan. Tekanan yang berpengaruh adalah hidrostatis (mencakup ke segala arah) dan stress(tekanan secara searah). Semakin dalam ke arah kerak bumi, pengaruh tekanan hidrostatis akan semakin besar. Pada permukaan bumi didapatkan pada daerah sesar atau patahan.
•            Metamorphose regional, yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan dan temperatur secara bersama-sama. Biasanya didapatkan pada geosinklin yang mengalami penurunan terus menerus (daerah tumbukan atau subdunction zone).
2.      Tekstur
  Kristaloblastik
Tekstur yang terjadi saat tumbuhnya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak tampak lagi).Dalam pembentukkan Batuan Beku mineral tumbuh pada suasana cair.Kristaloblastik terbagi menjadi:

  Lepidoblastik
Tekstur Batuan Metamorf yang didominasi oleh mineral-mineral pipih yang memperlihatkan orientasi sejajar seperti mineral-mineral biotit,muscovite dan sebagainya.
  Nematoblastik
Terdiri dari mineral-mineral berbentuk prismatic menjarum (acicular,rod-like) yang memperlihatkan orientasi sejajar, misalnya mineral amphibol, silimanit, piroksen dan lain-lain.
  Granoblastik
Tekstur pada Batuan Metamorf yang terdiri dari mineral-mineral yang berbentuk butiran-butiran dengan sisi kristal yang bergigi (sutered). Contohnya Kuarsa, Garnet dan lain-lain.
  Porfiroblastik
Tekstur pada Batuan Metamorf dimana suatu kristal besar (fenokris) tertanam pada masa dasar relative halus. Identik dengan porfiritik.
  Idioblastik
Tekstur pada Batuan Metamorf dimana bentuk mineral-mineral penyusunnya berbentuk euhedral.
  Xenoblastik
Sama dengan idioblastik tetapi bentuk mineral-mineralnya adalahanhedral.
  Palimpsest (Tekstur Sisa)
•         Blastoporfiritik yaitu suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porforitik.
•         Blasto-opitik yaitu suatu tekstur sisa dari batuan asal yang
opitik.



3.      Struktur
Struktur pada Batuan Metamorf merupakan hubungan antara butiran dengan butiran lainnya dalam Batuan Metamorf. Kebanyakan Batuan Metamorf mempunyai struktur foliasi.
•         Foliasi
Foliasi adalah sifat perlapisan (foliates atau daun) atau berdaun. Namun harus dibedakan dengan lapisan sedimen. Disini terjadi penyusunan kristal-kristal daripada mineral secara pertumbuhan dalam arah panjang dari mineral. Foliasi ini dapat berjenis-jenis:
  Slatycleavage
Struktur yang khas pada batuan sabak (slate), seperti schistocity, tanpa ada segregation bedding (perlapisan akibat pemisahan macam-macam mineral). Mineral-mineral sangat halus dan tidak dapat dilihat secara megaskopis (belahan-belahan sangat kecil dengan mika-mika mikroskopis). Contohnya Slate (batu sabak), batu lempung yang mengalami metamorphose dengan fasies rendah.
  Phyllitic
Struktur pada batuan filit, tingkatanya lebih tinggi dari slate, sudah ada segregation bedding tetapi tidak sebaik batuan yang berteksturschistocity (foliasi diperlihatkan oleh kepingan-kepingan halus mika).
  Schistose
Foliasi yang diperlihatkan secara jelas oleh kepingan-kepingan mika, memberikan belahan yang rata atau tidak putus-putus (closed schistochity). Sering juga merupakan perulangan antara mineral-mineral pipih dengan mineral-mineral berbutir.

  Gneissic
Foliasi diperlihatkan oleh penyusun mineral-mineral yang granular dan memperlihatkan belahan-belahan yang tidak rata (perlapisan mineral membentuk jalur yang terputus-putus atau open schistocity).
•         Non-foliasi
Struktur non-foliasi ini dalam Batuan Metamorf dicirikan dengan tidak terdapatnya suatu penjajaran daripada mineral-mineral yang ada dalam Batuan Metamorf, yaitu:
  Hornfelsik atau hornfels
Struktur khas pada batuan hornfels (metamorf thermal) dimana butir-butirnya equidemensional tidak menunjukkan pengarahan atau orientasi.
  Kataklastik
Struktur yang terdiri dari pecahan-pecahan atau fragmen-fragmen batuan maupun mineral. Kelompok mineral atau batuan tersebut tidak menunjukkan arah. Contohnya Breksi patahan, biasanya dijumpai pada zona-zona sesar atau patahan.
  Milonitik
Sama dengan struktur kataklastik, hanya butirannya lebih halus, dan dapat dibelah-belah seperti schistose. Struktur milonitik ini dapat dipakai untuk ciri adanya sesar suatu daerah. Hubungannya dengan kataklastik, disini pergerakan sesarnya lebih kuat, sehingga fragmennya akan lebih halus karena adanya penggerusan oleh sesar dan biasanya menunjukkan orientasi.
4.      Komposisi
Pada hakekatnya komposisi mineral Batuan Metamorf dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

•            Mineral Stress
Suatu mineral yang berbentuk dan stabil dalam kondisi tekanan dan suhu (T), dimana mineral ini dapat berbentuk pipih atau tabular, prismatic. Contonya Mika, kyanit, klorit, staurolit, serpentin, epidot.
•            Mineral Anti Stress
Suatu mineral yang terbentuk bukan dalam kondisi tekanan dimana biasanya berbentuk equidimensional. Contohnya kuarsa, kalsit, feldspar, kordierit dan granit.

2.4      Topografi
Kata topografi berasal dari kata Yunani yaitu topos yang berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Topografi adalah bentuk dari permukaan bumi. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan. Topografi  untuk umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi dimulai sejak zaman Yunani kuno dan berlanjut hingga Romawi kuno, sebagai detail dari suatu tempat. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan militer dan eksplorasi geologi, untuk kebutuhkan konstruksi sipil, pekerjaan umum, dan proyek reklamasi.
Ada 2 istilah yang sering ditemukan yang berkaitan dengan topografi, yakni ukur topografi dan peta topografi.
1.      Ukur topografi adalah pemungutan dan pengumpulan data mengenai kedudukan dan bentuk permukaan bumi. Kaidah yang digunakan di dalam ukur topografi antara lain ukur aras, tekimetri, meja datar, fotogrametri dan penginderaan jauh.
2.      Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas, diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebafian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur. Peta topografi menampilkan semua unsur yang berada di atas permukaan bumi, baik unsur alam maupun buatan manusia. Peta jenis ini biasa dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan di alam bebas, termasuk peta untuk kepentingan militer, teknik sipil, dan arkeologi.
Bentuk muka bumi di daratan meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.       Gunung, merupakan bentuk permukaan bumi menjulang tinggi yang berbentuk kerucut.
b.      Pegunungan, terdiri dari rangkaian gunung-gunung.
c.       Dataran tinggi atau plato merupakan bagian permukaan bumi yang tingginya lebih dari 700 meter di atas permukaan air laut, dan lapisan tanahnya relatif datar atau horizontal.
d.      Bukit adalah dataran yang tinggi, lebih tinggi dari sekelilingnya tetap lebih rendah dari gunung.
e.       Dataran rendah adalah dataran yang tingginya hanya beberapa meter di atas permukaan air laut.
f.       Lembah adalah bagian permukaan bumi yang rendah yang berada di kanan dan kiri kaki gunung.
g.      Ngarai atau kanyon merupakan lembah yang curam dan dalam, di dasar lembah tersebut terdapat sungai yang mengalir.
h.      Cekungan (basin) adalah bentuk muka bumi yang mencekung seperti mangkok, umumnya dikelilingi oleh gunung atau pegunungan.
i.        Depresi kontinental adalah daratan yang lebih rendah daripaa permukaan laut.
j.        Pematang adalah suatu bukit atau pegunungan yang puncaknya berderet-deret.
k.      Lereng adalah suatu daerah permukaan tanah yang letaknya miring.
l.        Daerah lipatan adalah permukaan bumi yang bergelombang dengan arah mendatar, terjadi karena tenaga endogen.
m.    Sleng (graben) adalah jalur batuan yang terletak di antara dua batuan yang tinggi dan masing-masing batuan dipisahkan oleh bidang-bidang patahan.
n.      Dome adalah daerah datar yang terangkat dan membentuk cembung.
Topografi merupakan faktor pasif  dalam pembentuk tanah. Yang dimaksud dengan topografi adalah bentuk lahan suatu daerah (morfologi regional). Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identitas jenis lahan. Relief adalah bantuk permukaan suatu lahan yang dikelompokkan atau ditentukan berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk bentang lahan (landform). Sedang topografi secara kualitatif adalah bentang lahan (landform) dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lereng, panjang lereng dan bentuk lereng.
Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mempercepat berbagai proses erosi air, sehingga mempengaruhi kedalaman solum tanah, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah.



Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara :
a.       Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah.
b.      Kedalaman air tanah.
c.       Besarnya erosi yang terjadi.
d.      Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah.
Sehingga dengan demikian komponen relief dan topografi yang menimbulkan efek terhadap pembentukan tanah adalah :
a.       Beda tinggi permukaan lahan (amplitude).
b.      Bentuk permukaan lahan.
c.       Derajat kelerengan.
d.      Panjang lereng.
e.       Arah lereng.
f.       Bentuk punggung lereng.
Semua komponen relief atau topografi tersebut bersama elemen iklim secara tak langsung berkolerasi terhadap :
a.       Pelapukan fisik dan kimiawi batuan
b.      Transportasi (erosi) bahan terlapuk di permukaan tanah
c.       Translokasi (pemindahan secara gravitasi) atau euvasi dan podsolisi
d.      Deposisi dan sedimentasi atau illuviasi (penimbunan)
Dengan demikian efek langsung relief dan topografi terhadap tanah adalah pada :
a.       Tebal solum tanah
Solum tanah pada daerah lembah dan dataran akan lebih tebal dibandingkan solum tanah yang terdapat di puncak bukit atau lereng terjal. Hal ini karena di dataran tinggi (puncak bukit atau lereng terjal) intensitas erosi lebih tinggi, sedangkan daerah yang datar (daerah lembah dan dataran) lapisan tanahnya tebal karena mengalami sedimentasi dan minim tingkat erosi.
b.      Drainase tanah
Tanah di daerah lembah atau cekungan memiliki drainase yang kurang baik dan sebaliknya untuk daerah-daerah berlereng lebih cepat atau baik. Daerah yang drainasenya kurang baik yang dicirikan dengan sering terdapat genangan air menyebabkan tanah menjadi asam.
c.       Satuan tanah
Jenis tanah yang perbedaanya ditentukan oleh regim kelembaban dan kelas drainase serta penciri oksida reduksi, sangat dipengaruhi oleh relief atau topografi.
d.      Tingkat erodibilitas tanah
Semakin besar selisih tinggi, derajat kelerenga, dan panjang lereng maka semakin besar tingkat erodibilat tanah.

Secara keseluruhan bagian topografi yang mempengaruhi pembentukan tanah adalah lereng, yang telah diuraikan secara rinci di atas bagian dari lereng yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah. Lereng erat kaitannya dengan erosi air. Erosi air menyebabkan pergerakan tanah ke lereng bagian bawah. Penyingkiran tanah dari bagian atas lereng yang berbentuk konvek menyebabkan terbentuknya tanah dangkal dan berbatu.  Bahan hasil erosi yang kemudian diendapkan di lereng bagian bawah membentuk koluvium atau alluvium dan menyebabkan meningkatnya kedalaman tanah di lereng bagian bawah. Tanah yang terdapat di lereng bagian bawah memiliki tekstur yang lebih halus karena air yang bergerak dari lereng atas ke lereng bawah berupa limpasan permukaan dan aliran bawah tanah.
Variasi jenis tanah di berbagai topografi diantaranya adalah:
a.       Di daerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat.
b.      Di lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah dan grumusol bewarna kuning coklat.
c.       Didaerah semi aris (agak kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis tanah grumusol kelabu.
d.      Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunya garam-garam dikaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi didaerah sub humid terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumusol, baik secara fisik maupun kimianya.
e.       Di lereng cekung seringkali membentuk cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang.
f.       Di dataran atau cekungan dimana air hujan tidak mudah meresap ke dalam tanah atau mengalir ke luar, maka air akan menggenang dan terbentuklah tanah yang berwarna kelabu banyak mengandung karatan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam pelaksanaan Praktikum Geologi Dasar tentang batuan, Mahasiswa dan Mahasiswi melakukan pengamatan dan identifikasi terhadap jenis, struktur, tekstur dan komposisi mineral batuan. Selama praktikum, penyusun melakukan beberapa metode penelitian, antara lain:
3.1           Metode Penelitian Langsung
Dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap batuan pada saat melaksanakan praktikum. Pelaksanaan praktikum merupakan tahapan pengambilan data-data batuan melalui pencatatan dari hasil objek batuan yang telah diamati, diteliti dan diidentifikasi.
3.2           Metode Studi Literatur
Merupakan data yang diperoleh dari buku-buku atau hand book, media cetak seperti majalah tentang batuan, media elektronik dan internet sebagai bahan tambahan dalam penyusunan laporan yang berkaitan dengan topik yang ditulis. Dan metode studi literatur ini juga untuk lebih menambah wawasan dan pengetahuan kita.
3.3           Metode Interview
Data-data yang digunakan untuk penulisan laporan ini didapat dari konsultasi langsung dengan Dosen Mata Kuliah Geologi Dasar, Asisten Praktikum Geologi Dasar, Para Ahli Geologi maupun dengan teman seangkatan dan kakak tingkat.

BAB IV
BATUAN BEKU
4.1         Tujuan
1.    Mengetahui jenis-jenis batuan beku
2.   Mengidentifikasi struktur pembentuk batuan beku
3.   Mengklasifikasi jenis-jenis batuan beku
4.   Mengetahui ciri-ciri fisik batuan beku
5.   Mengetahui klasifikasi batuan beku
4.2         Dasar Teori
Batuan beku atau batuan iqneus adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik dibawah permukaan bumi maupun diatas permukaan bumi dimana magma ini dapat berasal dari proses konvergensi antar batuan sehingga batuan hasil tumbukan mencair sehingga menjadi magma.
Klasifikasi dari batuan beku dapat kita bedakan dari tempat proses pembetukannya dimana terbagi menjadi dua, yaitu: batuan beku intrusif (batuan yang membeku dibawah permukaan bumi) dan batuan beku ekstrusif (batuan yang membeku diatas permukaan bumi).
Batuan beku sering kita jumpai di daerah lereng pegunungan. Batuan Beku sendiri merupakan batuan yang berasal dari hasil pembentukan magma yang mempunyai tekstur hablur (kristalin). Pembentukan Batuan Beku berasal dari pembekuan magma yang ada dibawah permukaan bumi atau hasil pembekuan lava dipermukaan bumi. Magma merupakan cairan kental yang berasal darilarutan silika dan terbentuk secara alamiah, yang memiliki temperatur tinggi antara 1.500°C sampai 2.500°C dan bersifat mudah bergerak serta terletak pada kerak bumi bagian bawah. Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan menuju permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa ini disebut dengan penghabluran.
Batuan Beku disusun oleh senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral penyusun Batuan Beku. Salah satu klasifikasi Batuan Beku dari kimia adalah dari senyawa oksidanya, seperti Silikat oksida (SiO2), Titanium oksida (TiO2), Aluminium oksida (AlO2), Besi (II) oksida (Fe2O3), Besi oksida (FeO), Mangan oksida (MnO), Magnesium oksida (MgO), Kalsium oksida (CaO), Sodium oksida (Na2O), Potasium oksida (K2O),air (H2O+), Porporus penthoxide (P2O5), dari persentase setiap senyawa kimia dapat mencerminkan beberapa lingkungan pembentukan mineral.
Analisa kimia batuan dapat dipergunakan untuk penentuan jenis magma asal, pendugaan temperatur pembentukan magma, kedalaman magma asal, dan banyak lagi kegunaan lainya. Dalam analisis kimia Batuan Beku, diasumsikan bahwa batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang sama dengan magma sebagai pembentukannya. BatuanBeku yang telah mengalami ubahan atau pelapukan akan mempunyai komposisi kimia yang berbeda. Karena itu batuan yang akan dianalisa harusla batuan yang sangat segar dan belum mengalami ubahan. Namun begitu sebagai catatanpengelompokan yang didasarkan kepada susunan kimia batuan, jarang dilakukan. Hal ini disebabkan disamping prosesnya lama dan mahal, karena harus dilakukan melalui analisa kimiawi
Berdasarkan komposisi mineralnya Batuan Beku dibagi menjadi tiga jenis batuan, yaitu:
•          Batuan Beku asam
•          Batuan Beku intermediet
•          Batuan Beku asam
Namun seiring dengan berkembangnya zaman, klasifikasi batuan telah dikembangkan lagi. Sehingga dapat diklasifikasikan lebih mendetail. Salah satunya adalah klasifikasi batuan dilihat dari segi kimiawi. Klasifikasi secara kimiawi ini berdasarkan atas persentase kandungan SiO2, yaitu:

•          Batuan Beku asam yaitu > 66% SiO2.
•          Batuan Beku intermediet yaitu 52%-66% SiO2.
•          Batuan Beku basa yaitu 45%- 52% SiO2.
•          Batuan Beku ultra basa yaitu < 45% SiO2.
1.       Struktur
Struktur batuan beku umumnya dapat dilihat dilapangan saja dan hanya beberapa saja yang dapat dilihat dalan hand specimensample:
•          Masif yaitu Batuan Beku yang tidak menunjukan adanya lubang-lubang ataustruktur aliran.
•          Vesikuler yaitu Batuan Beku yang berlubang-lubang yang disebabkanoleh keluarnya gas pada waktupembekuan magma,arah lubang itu teratur.
•          Scoria yaitu Batuan Beku yangberlubang-lubang besar tetapi arah tidak teratur.
•          Amigdaloidal yaitu Batuan Beku yang lubang-lubangnya terisi oleh mineralsekunder.
2.       Tekstur
Tekstur adalah hubungan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan. Untuk Batuan Beku, pengamatan tekstur meliputi:
•          Derajat Kristalisasiyang terbagi menjadi 3, yaitu:
  Holokristalin yaitu apabila batuan terdiri dari massa kristalseluruhnya.
  Holohyalin yaitu apabila batuan terdiri dari massagelasseluruhnya.
  Hipokrislatin yaitu apabila sebagian terdiri dari massakristal dan massa gelas.



•          Granularitas terbagi menjadi 2, yaitu:
  Fanerik yaitu apabila kristal-kristalnya jelas sehingga dapat dibedakan dengan mata biasa, antara lain:
-       Halus dengan diameter < 1 mm.
-       Sedang dengan diameter 1 sampai 5 mm.
-       Kasar dengan diameter 5 sampai 30 mm.
-       Sangat kasar dengan diameter > 30 mm.
  Afanitik yaitu apabila kristal-kristalnya sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan pandangan mata biasa.
•          Bentuk Kristal, terbagi menjadi 3, yaitu:
  Euhedral yaitu apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
  Subhedral yaitu apabila sebagian dari batas-batas mineral sudah tidak tampak lagi.
  Anhedral yaitu apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang
       kristal asli.
•          Relasi terbagi menjadi 2, yaitu:
  Equigranular yaitu bila secara relative ukuran kristal pembentuk batuan berukuran sama besar.
  Inequigranular yaitu bila ukuran kristal pembentuknya tidak sama.
3.       Komposisi Mineral
Untuk menentukan komposisi mineral kita cukup menggunakan indeks warna dari bentuk kristal, sebagai dasar penentuan mineral penyusun batuan. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokan menjadi dua:
•          Mineral Felsik yaitu yang berwarna cerah terutama kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muscovite.
•          Mineral Mafik yaitu yang berwarna gelap terutama biotic, piroksen, amphiboldan olivine.

Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan. Batuan Beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang  tersusun atas mineral-mineral felsik,misalnya kuarsa, potash feldsfar dan muskovit. Batuan Beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya Batuan Beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Batuan Beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah Batuan Beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.Beberapa contoh Batuan Beku, yaitu:
1.       Granit
Granit adalah Batuan Beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga sedang, berwarna terang, mempunyai banyak warna umumnya putih, kelabu, merah jambu atau merah. Warna ini disebabkan oleh variasi warna dari mineral feldspar. Granit terbentuk jauh di dalam bumi dan tersingkap di permukaan bumi karena adanya erosi danaktivitas tektonik. Granit merupakan batuan yang banyak terdapat di alam. Di Indonesia, granit terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya (Papua), dan lain-lain. Granit dapat digunakan sebagai bahan pengeras jalan, pondasi, galangan kapal, dan bahan pemoles lantai, serta pelapis dinding.

                                                             
Gambar 4.1 Batuan Beku Granit
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)

2.       Granodiorit
Granodiorit adalah Batuan Beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga sedang, berwarna terang, menyerupai granit. Granodiorit dapat digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, dan lain-lain. Granodiorit banyak terdapat di alam dalam bentuk batholoite, stock, sill dan retas yang tersebar di Bukit Barisan, Sumatera.









Gambar 4.2 Batuan Beku Granodiorit
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)



3.    Diorit

Diorit adalah Batuan Beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga sedang, warnanya agak gelap. Diorit merupakan batuan yang banyak terdapat di alam. Di Jawa Tengah banyak terdapat di kota Pemalang dan Banjarnegara.



Gambar 4.3 Batuan Beku Diorit
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)
4.       Gabro
Gabro adalah Batuan Beku dalam yang umumnya berwarna hitam, mineralnya berbutir kasar hingga sedang. Dapat digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, dan yang dipoles sangat disukai karena warnanya hitam, sehingga baik untuk lantai atau pelapis dinding. Di Pulau Jawa, batuan ini terdapat di Selatan Ciletuh, Pegunungan Jiwo, Serayu, dan Pemalang.







Gambar 4.4 Batuan Beku Gabro
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)
5.    Andesit

Andesit adalah Batuan Beku permukaan. Batuan lelehan dari diorit, mineralnya berbutir halus, komposisi mineralnya sama dengan diorit, warnanya kelabu. Gunung api di Indonesia umumnya menghasilkan batuan andesit dalam bentuk lava maupun piroklastika. Batuan andesit yang banyak mengandung hornblenda disebut andesit hornblenda, sedangkan yang banyak mengandung piroksin disebut andesit piroksin. Batuan ini banyak digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, bendungan, konstruksi beton, dan lain-lain. Adapun yang berstruktur lembaran banyak digunakan sebagai batu tempel.
Gambar 4.5  Batuan Beku Andesit
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)
6.       Basalt
Basal adalah Batuan Beku permukaan. Batuan lelehan dari gabro, mineralnya berbutir halus, berwarna hitam. Gunungapi di Indonesia umumnya menghasilkan batuan basal dalam bentuk lava maupun piroklastika. Batuan ini banyak digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, bendungan, konstruksi beton, dan lain-lain. Basal yang berstruktur lembaran banyak digunakan sebagai batusampel. Basal umumnya berlubang-lubang akibat bekas gas, terutama pada bagian permukaannya.
                                   
Gambar 4.6
Batuan Beku Basalt
(Sumber: http://tambangunp.blogspot.com/2013/07/struktur-dan-tekstur-batuan.html)

4.3         Alat dan Bahan
4.3.1         Alat
•          Kamera
•          Luv
•          Mistar
•          Penghapus
•          Pensil
•          Pensil warna
•          Pulpen
•          Tipe-X
4.3.2         Bahan
•          Batuan Beku Apung
•          Batuan Beku Andesit
•          Batuan Beku Diorit
•          Batuan Beku Gabro
•          Batuan Beku Granit
•          Batuan Beku Obsidian

4.4         Prosedur Praktikum
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.   Mengamati  jenis batuan, warna batuan, struktur batuan, tekstur batuan (derajat kristalisasi, granularitas, bentuk kristal, relasi), komposisi batuan dan nama batuan.
3.   Mengambil foto dari batuan.
4.   Mencatat hasil deskripsi pada buku pendahuluan.
5.   Menggambar batuan.
6.   Merapikan alat dan bahan yang telah digunakan.














4.5         Hasil Pengamatan
4.5.1         Batuan Pertama
•       Nomor Urut                          : 1
•       Nomor Batuan                      : 1.1
•       Nama Batuan                                    : Apung
•       Warna Batuan                       : Cerah
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Skoria
•       Tekstur Batuan                  
o   Derajat Kristalisasi         : Holokristalin
o   Granularitas                   : Afanitik
o   Bentuk Kristal                : Subhedral
o   Relasi                              : Inequigranular
•       Komposisi                             : Felsik
•       Gambar                                 :


Gambar 4.1
Batuan Beku Apung







4.5.2         Batuan Kedua
•       Nomor Urut                          : 2
•       Nomor Batuan                      : 1.2
•       Nama Batuan                                    : Batuan Obsidian
•       Warna Batuan                       : Gelap
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Masif
•       Tekstur Batuan
o   Derajat Kristalisasi         : Holonyalin
o   Granularitas                   : Afanitik
o   Bentuk Kristal                : Anhedral
o   Relasi                              : Equigranular
•       Komposisi                             : Mafik
•       Gambar                                 :


Gambar 4.2
Batuan Beku Obsidian






4.5.3         Batuan Ketiga
•       Nomor Urut                          : 3
•       Nomor Batuan                      : 1.3
•       Nama Batuan                                    : Andesit
•       Warna Batuan                       : Gelap
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Xenolotis
•       Tekstur Batuan                  
o   Derajat Kristalisasi         : Hipokristalin
o   Granularitas                   : Afinatik
o   Bentuk Kristal                : Subhendral
o   Relasi                              : Inequigranular
•       Komposisi                             : Mafik
•       Gambar                                 :

Gambar 4.3
Batuan Beku Andesit






4.5.4         Batuan Keempat
•       Nomor Urut                          : 4
•       Nomor Batuan                      : 1.4
•       Nama Batuan                                    : Batu Gabro
•       Warna Batuan                       : Gelap
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Xenolotis
•       Tekstur Batuan                  
o   Derajat Kristalisasi         : Hipokristalin
o   Granularita                     : Afanitik
o   Bentuk Kristal                : Subhedral
o   Relasi                              : Equigranular
•       Komposisi                             : Mafik
•       Gambar                                 :

Gambar 4.4
Batuan Beku Gabro







4.5.5         Batuan Kelima
•       Nomor Urut                          : 5
•       Nomor Batuan                      : 5.1
•       Nama Batuan                                    : Diorit
•       Warna Batuan                       : Terang
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Masif
•       Tekstur Batuan                     :
o   Derajat Kristalisasi         : Hipokristalin
o   Granularitas                   : Fenerik
o   Bentuk Kristal                : Euhedral
o   Relasi                              : Equigranular
•       Komposisi                             : Mafik
•       Gambar                                 :

Gambar 4.5
Batuan Beku Diorit







4.5.6         Batuan Keenam
•       Nomor Urut                          : 6
•       Nomor Batuan                      : 6.1
•       Nama Batuan                                    : Granit
•       Warna Batuan                       : Terang
•       Jenis Batuan                         : Batuan Beku
•       Struktur Batuan                    : Masif
•       Tekstur Batuan                     :
o   Derajat Kristalisasi         : Holokristalin
o   Granularitas                   : Fanerik
o   Bentuk Kristal                : Euhedral
o   Relasi                              : Equigranular
•       Komposisi                             : Felsik
•       Gambar                                 :

Gambar 4.6
Batuan Beku Granit






4.6         Analisa Percobaan
Percobaan kali ini berjudul percobaan batuan beku. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat saya pahami bahwa batuan beku merupakan batuan yang terbentuk akibat pembekuan magma baik yang terjadi di dalam bumi, di perjalanan menuju permukaan bumi, maupun di permukaan bumi.
Percobaan batuan beku bertujuan untuk mengetahui tentang batuan beku, mengetahui tentang klasifikasi batuan beku, mengetahui komponen penyusun batuan beku, mengetahui tekstur, struktur dan mineral batuan beku dan mengetahui berbagai macam dan contoh batuan beku.
Warna dari batuan memiliki kaitan yang erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan. Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang  tersusun atas mineral-mineral felsik,contohnya kuarsa, potash feldsfar dan muscovite. Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik.
Batuan beku yang diklasifikasikan berdasarkan strukturnya yaitu ada masif. Batuan beku dapat digolongkan dalam masif jika batuan menunjukan adanya lubang-lubang atau suatu stuktur aliran. Ada juga amigdaloida yang dapat dimasukkan kedalam masif karenaamigdaloida yaitu batuan beku yang lubang-lubangnya sudah terisi mineral sekuder yang sebelumnya lubang-lubang itu kosong. Ada juga vesikuler yaitu jika batuan beku berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma dan arah dari lubang-lubang tersebut teratur. Selanjutnya ada scoria yaitu batuan beku yang berlubang-lubang besar tapi arahnya tidak teratur. Yang terakhir ada xenolitis yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen atau pemecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintruksi.
Tekstur batuan beku dapat dilihat dari derajat kristalisasinya, granularitasnya, bentuk kristalnya, dan relasinya. Dari derajat kristalisasi dapat dibagi menjadi holokristalinjika batuan terdiri dari massa kristal seluruhnya, holohyalin jika batuan terdiri dari massa gelas seluruhnya, dan hipokristalin jika batuan terdiri dari sebagian massa gelas dan kristal. Dari Granularitanya yaitu fanerik apabila kristal-kristalnya tampak jelas dan dapat dibedakan dengan mata. Afinatik apabila kristal-kristalnya sangat halus. Sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata biasa. Dari bentuk kristalnya yaiu euhedral, subhedral dananhedral. Dari sisi relasinya yaitu equigranular dan inequigranular.
Komposisi mineral  batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan indeks warna dan bentuk kristal atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku adalah Mineral felsik (mineral yang bewarna terang terutama kwarsa, feldspar, feldspatorid dan muscovite) dan Mineral mafik (mineral yang berwarna gelap terutamabiotic, olivine, piroksin dan amphibol).
 Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu Pulpen, Pensil, Pensil warna, Drawing pen, Tipe-X, Penghapus, Luv yang digunakan untuk memperjelas penelitian struktur batuan, Kamera yang digunakan untuk mengabadikan gambar batuan yang diamati, Mistar yang digunakan untuk mengukur panjang benda (batuan), dan Buku Pendahuluan Praktikum. Sedangkan bahan yang digunakan merupakan batuan yang akan diamati, yaitu batuan beku granit, batuan beku apung, batuan beku obsidian, batuan beku gabro, batuan beku basalt dan batuan beku apung.
Prosedur percobaan yang dlakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang digunakan lalu mengamati jenis batuan, ciri-ciri batuan dan komposisi mineralnya kemudian mengambil foto dan menggambar batuan, setelah itu mencatat hasil deskripsi dan yang terakhir menggambar batuan.
Batuan beku yang pertama yaitu batuan beku granit. Batuan ini memiliki nomor batuan 1.1. Warna batuan beku granit adalah putih bintik hitam. Batuan beku granit termaksuk dalam jenis batuan beku felsik karena batuan memliki warna yang cerah terutama berisi kuarsa, feldspar,feldspatoid,dan muscovite. Struktur batuannya termasukskoria (amigdaloida) yaitu struktur yang menunjukan lubang-lubang pada batuan yang terisi mineral sekunder. Terkstur batuan beku granit yaitu dilihat dari derajat kristalisasinya termasuk holokristalin yaitu sebagian massa batuan terdiri dari massa kristal seluruhnya. Dilihat dari sisi granuralitas termasuk Afanitik yaitu batuan beku yang kristal-kristalnyasangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata biasa. Dilihat dari bentuk kristalnya, batuan beku granit termasuk kedalam subhedral karena sebagian dari batas mineralnya sudah tidak tampak lagi. Jika kita lihat dari sisi relasinya maka batuan ini termasuk kedalam equigranular karena ukuran kristal pembentuk batuan ini sama besarnya. Jadi komposisi dari batuan beku granit adalah mineral felsik lebih dominan atau lebih besar daripada mineral mafik karena warna batuan yang cerah mengandung mineral kuarsa, feldspar, muscovite dan feldspatoid.
Batuan beku yang kedua yaitu batuan obsidian dengan nomor batuan 1.2. Warna batuan ini adalah hitam mulus. Struktur dari batuan ini adalah masif  karena tidak menunjukkan adanya lubang-lubang. Tekstur dari batuan ini dapat dilihat dari derajat kristalisasinya termasuk holohyalin karena batuan ini tersusun dari massa gelas seluruhnya, dilihat dari granularitasnya termasuk afanitik karena besar kristal-kristalya sangat halus, dilihat dari bentuk kristalnya termasuk anhedral karena mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli dan relasinya termasuk equigranural karena ukuran kristalnya sama besar dan komposisi mineralnya adalah mineral mafik karena mineral yang ada dalam batuan obsidian berwarna gelap.
 Batuan beku yang ketiga yaitu batuan beku basalt dengan nomor batuan 1.3.Warna batuan ini adalah hitam abu-abu. Termasuk dalam batuan jenis mafik karena batuan berwarna gelap yang biasanya mengandung mineral biotik, piroksen, amphibol, danolivine. Struktur dari batuan ini adalah vesikuler karena batuan ini memiliki lubang-lubang namun arahnya teratur. Tektur dari batuan ini dilihat dari derajat kristalisasinya termasuk dalam hipokristalin yaitu batuan yang sebagian terdiri dari massa kristal dan massa gelas. Dari sisi granularitas, batuan ini termasuk dalam fanerik sangat kasar dengan diameter lebih besar dari 30 mm. Bentuk kristal dari batuan ini adalah anhedral karena sudah tidak memiliki batas dari mineralnya. Jika dilihat dari sisi relasinya, maka batuan ini termasuk kedalam inequigranular karena ukuran kristal pembentuk batuan secara relatif berukurantidak sama besar. Jadi komposisi dari batuan beku granit adalah mineral mafik lebih besar atau dominan daripada mineral felsik.
Batuan yang yang keempat yaitu batuan beku gabro dengan nomor batuan 1.4. Warna batuan ini adalah hitam kecoklatan. Struktur dari batuan ini adalah vesikuler karena menunjukkan lubang-lubang yang beraturan pada saat keluarnya gas pada saat proses sedimentasi. Tekstur dari batuan ini dilihat dari derajat kristalisasinya adalah hipokritalin karena terdiri dari massa kristal seluruhnya, dari sisi granularitasnya termasuk fanerik karena kristalnya sangat jelas yang dapat dilihat oleh mata, bentuk kristalnya adalah subhedral karena sebagian dari batas mineralnya sudah tidak tampak lagi dan relasinya merupakan equigranural karena ukuran kristal pembentuk batuan secara relative berukuran sama besar. Jadi komposisi mineralnya adalah mineral mafik lebih besar atau ;ebih dominan dari pada mineral felsik.
Batuan beku yang kelima yaitu batuan beku granit. Batuan ini memiliki nomor batuan 1.5. Warna batuan beku granit adalah putih bintik hitam. Batuan beku granit termaksuk dalam jenis batuan beku felsik karena batuan memliki warna yang cerah terutama berisi kuarsa, feldspar,feldspatoid,dan muscovite. Struktur batuannya termasukskoria (amigdaloida) yaitu struktur yang menunjukan lubang-lubang pada batuan yang terisi mineral sekunder. Terkstur batuan beku granit yaitu dilihat dari derajat kristalisasinya termasuk holokristalin yaitu sebagian massa batuan terdiri dari massa kristal seluruhnya. Dilihat dari sisi granuralitas termasuk Afanitik yaitu batuan beku yang kristal-kristalnyasangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata biasa. Dilihat dari bentuk kristalnya, batuan beku granit termasuk kedalam subhedral karena sebagian dari batas mineralnya sudah tidak tampak lagi. Jika kita lihat dari sisi relasinya maka batuan ini termasuk kedalam equigranular karena ukuran kristal pembentuk batuan ini sama besarnya. Jadi komposisi dari batuan beku granit adalah mineral felsik lebih dominan atau lebih besar daripada mineral mafik karena warna batuan yang cerah mengandung mineral kuarsa, feldspar, muscovite dan feldspatoid.
Batuan beku yang keenam yaitu batuan beku basalt dengan nomor batuan 1.6.Warna batuan ini adalah hitam abu-abu. Termasuk dalam batuan jenis mafik karena batuan berwarna gelap yang biasanya mengandung mineral biotik, piroksen, amphibol, danolivine. Struktur dari batuan ini adalah vesikuler karena batuan ini memiliki lubang-lubang namun arahnya teratur. Tektur dari batuan ini dilihat dari derajat kristalisasinya termasuk dalam hipokristalin yaitu batuan yang sebagian terdiri dari massa kristal dan massa gelas. Dari sisi granularitas, batuan ini termasuk dalam fanerik sangat kasar dengan diameter lebih besar dari 30 mm. Bentuk kristal dari batuan ini adalah anhedral karena sudah tidak memiliki batas dari mineralnya. Jika dilihat dari sisi relasinya, maka batuan ini termasuk kedalam inequigranular karena ukuran kristal pembentuk batuan secara relatif berukurantidak sama besar. Jadi komposisi dari batuan beku granit adalah mineral mafik lebih besar atau dominan daripada mineral felsik.
Batuan ketujuh yang diamati adalah batuan beku apung dengan nomor batuan 1.7. Warna dari batuan ini adalah putih agak cream. Batuan ini termasuk kedalam jenis batuan intermediet karena berwarna diantara cerah dan gelap. Struktur batuan dari batuan ini adalah skoria yang berarti batuan ini memiliki lubang-lubang besar dan tidak teratur. Tekstur batuan jika dilihat dari derajat kristalisasinya yaitu termasuk kedalam holokristalinkarena seluruh massa batuan terdiri dari kristal. Dari sisi granularitas, batuan beku basal termasuk kedalam fanerik halus dengan ukuran diameter kurang dari 1 mm. Bentuk kristal dari batuan ini adalah anhedral karena mineral pembentuk batuan sudah tidak mempunyai bidang kristal aslinya. Jika dilihat dari sisi relasinya, maka batuan ini termasuk kedalamequigranular karena secara relatif ukuran kristal pembentuk batuan tidak sama besarnya.Komposisi mineralnya merupakan mineral felsik karena berwarna gelap.
Batuan yang yang kedelapan yaitu batuan beku gabro dengan nomor batuan 1.8. Warna batuan ini adalah hitam kecoklatan. Struktur dari batuan ini adalah vesikuler karena menunjukkan lubang-lubang yang beraturan pada saat keluarnya gas pada saat proses sedimentasi. Tekstur dari batuan ini dilihat dari derajat kristalisasinya adalah hipokritalin karena terdiri dari massa kristal seluruhnya, dari sisi granularitasnya termasuk fanerik karena kristalnya sangat jelas yang dapat dilihat oleh mata, bentuk kristalnya adalah subhedral karena sebagian dari batas mineralnya sudah tidak tampak lagi dan relasinya merupakan equigranural karena ukuran kristal pembentuk batuan secara relative berukuran sama besar. Jadi komposisi mineralnya adalah mineral mafik lebih besar atau ;ebih dominan dari pada mineral felsik.

4.7     Analisa kesalahan
                             Dalam percobaan mengenai batuan beku ini terdapat beberapa kesalahan diantaranya, yaitu:
1.    Ada yang inhal
2.    Kelompok tidak lengkap
3.    Kurang memanfaatkan waktu

3.8         Kesimpulan
Dari Percobaan Batuan Beku dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.       Batuan beku merupakan batuan yang terbentuk akibat pembekuan magma baik yang terjadi di dalam bumi, diperjalanan menuju permukaan bumi, maupun di permukaan bumi.
2.       Batuan beku yang terbentuk dibawah permukaan merupakan batuan beku intrusif dan batuan beku yang terbentuk diatas permukaan adalah batuan beku ekstrusif.
3.       Alat yang digunakan adalah kamera, lup, pensil, pensil warna, pulpen, penggaris, tipe-x.
4.       Bahan yang digunakan adalah batu basalt, batu granit, batu apung, batu obsidian, batu gabro.
5.       Analisa percobaan meliputi:
•         Judul percobaan
•         Tujuan percobaan
•         Dasar teori
•         Alat dan bahan yang digunakan
•         Prosedur percobaan
•         Hasil pengamatan
6.       Analisa kesalahan yang ada pada percobaan batuan beku adalah
•         Kurangnya alat dilaboratorium
•         Kurang memahami materi
•         Kekondusifan pada saat praktikum kurang mendukung
•         Waktu sangat kurang untuk meneliti batuan
7.       Prosedur percobaan yang dilakukan pada percobaan kali ini adalah
•         Menyiapkan alat dan bahan
•         Mengamati jenis batuan, ciri-ciri batuan dan komposis mineral batuan
•         Mengambil foto dari batuan dan gambar pada buku pendahuluan
•         Mencatat hasil deskripsi pada buku pendahuluan
•         Menggambar batuan
8.       Batuan beku berdasarkan komposisinya dibagi menjadi tiga jenis batuan, yaitu:
•          Batuan beku asam             : Cerah
•          Batuan beku intermediet   : Abu-abu
•          Batuan beku basa              : Gelap
9.       Berdasarkan strukturnya, batuan beku dibagi menjadi:
•          Masif
•          Vesikuler
•          Scoria
•          Xenolitis
•          Amigdaloidal
10.   Klasifikasi secara kimiawi ini berdasarkan atas persentase kandungan SiO2(Silikat oksida), yaitu:
•          Batuan beku asam             : >66% SiO2
•          Batuan beku intermediet   : 52%-66% SiO2
•          Batuan beku basa              : 45% - 52% SiO2
•          Batuan beku ultra basa      : <45% SiO2
11.   Berdasarkan teksturnya batuan beku dibagi menjadi:
•          Derajat kristalisasi yang terbagi juga menjadi:
  Holokristalin,
  Holohyalin, dan
  Hpokristalin.



•          Granularitas yang terbagi juga menjadi:
  Fanerik, dapat dibagi lagi menjadi:
-       Halus                    : Diameternya < 1 mm,
-       Sedang                  : Diameternya 1-5 mm,
-       Kasar                    : Diameternya 5-30 mm, dan
-       Sangat kasar         : Diameternya > 30 mm.
  Afanitik
•          Bentuk kristal yang dapat dibagi menjadi:
  Euhedral,
  Subhedral, dan
  Anhedral.
•          Relasi
  Equigranular
  Inequigranular
12.   Berdasarkan komposisi mineralnya, batuan beku terbagi atas:
•          Mineral felsik
•          Mineral mafik
13.   Warna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya. Mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
14.   Batuan yang diamati dalam percobaan ini:
•          Batuan beku granit warnanya putih dan abu-abu.
•          Batuan beku basalt warnanya hitam abu-abu.
•          Batuan beku apung warnanya putih agak cream.
•          Batuan beku obsidian warnanya hitam mulus.
•          Batuan beku gabro warnanya hitam kecoklatan
15.   Batuan yang diamati dalam percobaan ini termasuk kedalam jenis:
•          Batuan beku granit termasuk kedalam batuan beku asam (felsik).
•          Batuan beku basalt termasuk kedalam batuan beku basa (mafik).
•          Batuan beku apung termasuk kedalam batuan beku intermediet.
•          Batuan beku obsidian termasuk kedalam batuan beku basa (mafik)
•          Batuan beku gabrp termasuk kedalam batuan beku basa (mafik)
16.   Berdasarkan teksturnya, dilihat dari derajat kristalisasinya:
•          Batuan beku granit            : Hipokristalin
•          Batuan beku basalt            : Hipokristalin
•          Batuan beku apung            : Holokristalin
•          Batuan beku obsidian        : Holohyalin
•          Batuan beku gabro            : Holokristalin
17.   Berdasarkan teksturnya, dilihat dari granularitasnya:
•          Batuan beku granit            : Afanitik
•          Batuan beku basalt            : Fanerik sangat kasar (diameter > 30                  mm)
•          Batuan beku apung            : Afanitik
•          Batuan beku obsidian        : Afanitik
•          Batuan beku gabro            : Fanerik
18.   Berdasarkan teksturnya, dilihat dari bentuk kristalnya:
•          Batuan beku granit            : Subhedral
•          Batuan beku basalt            : Anhedral
•          Batuan beku apung            : Anhedral
•          Batuan beku obsidian        : Anhedral
•          Batuan beku gabro            : Subhedral
19.   Berdasarkan teksturnya, dilihat dari relasinya:
•          Batuan beku granit            : Equigranular
•          Batuan beku basalt            : Inequigranular
•          Batuan beku apung            : Equigranular
•          Batuan beku obsidian        : Equigranular
•          Batuan beku gabro            : Equigranular

20.   Batuan beku yang telah diamati memiliki struktur:
•          Batuan beku granit            : Scoria
•          Batuan beku basal             : Vesikuler
•          Batuan beku apung            : Scoria
•          Batuan beku obsidian        : Masif
•          Batuan beku gabro            : Vesikuler

21.   Batuan beku yang telah diamati memiliki komposisi:
•          Batuan beku granit            : Mineral felsik > mineral mafik
•          Batuan beku basalt            : Mineral mafik > mineral felsik
•          Batuan beku apung            : Mineral felsik > mineral mafik
•          Batuan beku obsidian        : Mineral mafik > mineral felsik
•          Batuan beku gabro            : Mineral mafik > mineral felsik